Pemprov Aceh: Tingginya Inflasi Jadi Dalang Bertambah Warga Miskin
Foto: Rianza/HabaAceh.id“Kabupaten/kota dan dana desa menjadi salah satu komponen penting dalam menekan angka kemiskinan masyarakat,” ungkap MTA.
Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat jumlah penduduk miskin di Aceh kembali naik sebesar 14,75 persen atau setara dengan 818,47 ribu orang. Pemerintah Aceh menyebutkan, tingginya inflasi menjadi dalang atau penyebab utama meningkatnya warga miskin di tanah rencong.
“Meningkatnya angka kemiskinan pada Maret 2022 sebesar 14,64 persen menjadi 14,75 persen atau naik sebesar 0,11 persen. Ini disebabkan oleh inflasi lebih tinggi sebesar 3,62 persen terutama makanan dan minuman, tembakau 7,93 persen dan inflasi transportasi 21,0 persen,” kata Juru Bicara (Jubir) Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, saat dikonfirmasi HabaAceh.id, Kamis (19/1).
Menurut MTA, penyebab lainnya yakni garis kemiskinan yang juga meningkat 6,57 persen lebih tinggi dari peningkatan rata-rata pengeluaran per kapita penduduk sebesar 3,57 persen.
Selain itu, laju pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari triwulan I sebesar 3,24 persen. Kemudian, sektor pertanian juga mengalami kontraksi (4,19) dan produksi padi hingga september 2022 hanya 52,46 ribu ton, lebih rendah dari maret 2022 sebesar 207,71 ribu ton.
“Garis kemiskinan Aceh hingga September 2022 juga meningkat menjadi Rp617.293 per kapita per bulan dari sebelumnya September 2021 sebesar Rp552 939,” sebutnya.
Sejak tahun 2019, kata MTA, angka kemiskinan Aceh mencapai 15,01 persen, mengalami kenaikan pada Tahun 2020 menjadi 15,43 persen karena pandemi, dan naik kembali pada tahun 2021 menjadi 15,53 persen.
“Kemudian pada tahun 2022 turun sebesar 0,78 persen poin menjadi 14,64 persen, sedangkan target penurunan dalam RPA 2023-2026 pada tahun 2023 adalah sebesar 15,53 persen,” jelas MTA.
Oleh karena itu, lanjut MTA, dalam mengurangi jumlah penduduk miskin maka sangat penting adanya kolaborasi dari kabupaten/kota seluruh Aceh, baik dalam sistem tata kelola keuangan daerah maupun dana desa, yang harus terfokus untuk sektor pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Kabupaten/kota dan dana desa menjadi salah satu komponen penting dalam menekan angka kemiskinan masyarakat,” ungkap MTA.
Sebelumnya, BPS Aceh mencatat jumlah penduduk miskin di tanah rencong selama periode Maret-September 2022 naik sebesar 14,75 persen atau setara dengan 818,47 ribu orang.
Statistisi Ahli Madya BPS Aceh, Dadan Supriadi mengatakan, angka itu mengalami kenaikan sebesar 11,7 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2022 yang jumlahnya 806,82 ribu orang atau 14,64 persen.
“Jumlah penduduk miskin di Aceh pada September 2022 mencapai 818,47 ribu orang,” kata Dadan dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (17/1).
Dadan menyebut, sejumlah fenomena menjadi penyebab meningkatnya angka kemiskinan di Aceh. Seperti inflasi dari tahun ke tahun yang terjadi pada September 2022 sebesar 7,38 persen, jauh lebih tinggi dibanding Maret 2022 (3,62 persen).
“Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yakni 7,93 persen dan transportasi sebesar 21,00 persen. Angka inflasi menggambarkan rata-rata perubahan harga,” ujar Dadan.
“Inflasi yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan garis kemiskinan, sehingga jika peningkatan garis kemiskinan ini tidak mampu diikuti oleh peningkatan konsumsi tentu akan berpotensi meningkatkan angka kemiskinan,” tambahnya.










Komentar