UNHCR: Aceh Bukan Tujuan Utama Imigran Rohingya

UNHCR: Aceh Bukan Tujuan Utama Imigran RohingyaFoto: Rianza/HabaAceh.id
Kepala United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Perwakilan Indonesia, Ann Maymann.

“Mereka punya kartu UNHCR, dengan kartu itu jika mereka berpindah dari suatu negara ke negara lain itu status pengungsi mereka tetap ada. Tidak hilang meskipun mereka pindah,” jelasnya.

Banda Aceh – United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Perwakilan Indonesia mengatakan, Aceh bukan menjadi tujuan utama dari para imigran Rohingya. Mereka hanya memilih Aceh sebagai daerah transit menuju Malaysia.

“Sangat sulit untuk menentukan tujuan akhir mereka karena datang ke sini dengan kapal. Tidak seperti orang-orang yang datang dengan pesawat, ada paspor, ada dokumen kelengkapan,” kata Kepala UNHCR Indonesia Ann Maymann, Rabu (4/1).

Hal itu disampaikan Ann Maymann dalam rapat kerja Komisi I DPR Aceh terkait investigasi seringnya pengungsi rohingya terdampar di Aceh, di Banda Aceh.

Maymann menyebutkan, situasi global di level regional yang tidak aman menyebabkan banyak imigran Rohingya melarikan diri dari negaranya. Sebagian pengungsi berusaha ke Malaysia untuk mencari keamanan, karena di sana banyak keluarga mereka. 

Namun, kata Maymaan, tidak semua mereka berniat ke Malaysia, karena ada sebagian yang juga menuju negara Sri Lanka dan beberapa negara lainnya. 

“Jadi tujuan mereka tidak bisa ditentukan, ada beberapa pergi ke Sri Lanka, tujuan utama dari mereka adalah mencari tempat yang lebih aman,” ujarnya.

Maymann menuturkan, sebagian besar imigran Rohinya yang terdampar di sujumlah wilayah terdaftar sebagai pengungsi UNHCR di Bangladesh. Sehingga, saat mereka pindah ke suatu negara status mereka sebagai pengungsi tetap berlaku. 

“Mereka punya kartu UNHCR, dengan kartu itu jika mereka berpindah dari suatu negara ke negara lain itu status pengungsi mereka tetap ada. Tidak hilang meskipun mereka pindah,” jelasnya.

Sementara, Direktur Hak Asasi Manusia (HAM) dan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu RI), Achsanul Habib menyampaikan, kedatangan imigran Rohingya ke Aceh tidak murni karena terdampar, melainkan dipandu dengan alat navigasi atau GPS (Global Positioning System).

Menurut Achsanul, para imigran Rohingya yang kerap terdampar di Aceh itu juga memiliki koneksi dengan sejumlah pihak di tanah rencong. 

“Kita melihat bahwa mereka memiliki koneksi atau jaringan di Aceh. Ini dapat ditenggarainya antara lain dengan pihak penghubungnya, mereka juga datang dititik yang sama. Sehingga mereka dipandu oleh koordinat GPS,” kata Achsanul.

 

 

 

 

Editor:

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...