Pj Walikota Lhokseumawe Ancam Nonaktifkan Pihak Sekolah Tak Sukseskan Imunisasi Polio

Pj Walikota Lhokseumawe Ancam Nonaktifkan Pihak Sekolah Tak Sukseskan Imunisasi PolioFoto: Mulyadi/HabaAceh.id

“Kalau ada sekolah yang menolak imunisasi berarti mereka tidak mencintai anak sekolahnya. Sekolah berperan mensosialisasikan sehingga sukses program imunisasi. Orang tua juga jika menolak artinya tidak sayang kepada anaknya, jangan tunggu sakit dan lumpuh baru menyesal,”katanya.

Lhokseumawe - Pj Walikota Lhokseumawe, Imran, mengancam akan menonaktifkan pihak sekolah yang menolak melakukan sosialisasi imunisasi polio. Lembaga pendidikan diminta ikut mensosialisasikan pentingnya imunisasi untuk mencegah penyakit lumpuh layu. 

Hal itu dikatakan Imran saat membuka kegiatan Pencanangan Pekan Imunisasi Nasional Sub (PIN) yang berlangsung di Sekolah Dasar yang ada di Kecamatan Banda Sakti, Senin (12/12). Kegiatan itu digelar untuk merespon penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio di Aceh yang ditemukan di Kabupaten Pidie pada November lalu.

Imran mengatakan pelaksanaan Sub-PIN merupakan salah satu wujud kecintaan pemerintah kepada seluruh masyarakat dan anak-anak.

“Jika imunisasi ini tidak dilakukan maka akibatnya akan fatal bagi pertumbuhan dan kesehatan anak-anak," katanya.

Dia menambahkan jika imunisasi tidak dilakukan dari sekarang, pihaknya sebagai pimpinan khawatir anak-anak pertumbuhannya akan terganggu, akibatnya anak-anak cenderung mengalami kecacatan dan kematian yang tidak diinginkan.

“Kita imbau masyarakat untuk membantu sosialisasi imunisasi kepada seluruh masyarakat, jika tidak maka target 95% imunisasi tidak akan berhasil, maka itu saya sangat berharap ada bantuan dari tokoh masyarakat semua untuk melakukan sosialisasi pentingnya imunisasi polio terhadap anak” katanya.

Dia menyebutkan hingga kini imunisasi masih di bawah rata-rata 50% berdasarkan data didapatkan setelah kunjungan ke-4 Puskesmas di Lhokseumawe.

"Salah satu sebab stunting yaitu kurang asupan gizi yang menyebabkan anak tidak normal dan perkembangan otaknya tidak baik,” ujarnya.

Dengan demikian, unsur kepala sekolah dan guru sangat penting dalam menyukseskan SUB-PIN ini. Dia mengatakan jika ada sekolah yang menolak, siap-siap minta dipindahkan atau dinonaktifkan sebagai kepala sekolah dan guru.

“Kalau ada sekolah yang menolak imunisasi berarti mereka tidak mencintai anak sekolahnya. Sekolah berperan mensosialisasikan sehingga sukses program imunisasi. Orang tua juga jika menolak artinya tidak sayang kepada anaknya, jangan tunggu sakit dan lumpuh baru menyesal,”katanya.

Kadis Kesehatan Kota Lhokseumawe Safwaliza melaporkan bahwa kegiatan ini akan berlangsung selama sepekan ditambah 5 hari sweeping sampai 24 Desember 2022.

Dia menambahkan Dinkes Lhokseumawe telah menyiapkan vaksin polio berjumlah 56.050 dosis disediakan untuk sasaran imunisasi anak usia 0 bulan sampai 12 tahun berjumlah 37.895 anak dengan yang bersumber dari anggaran tahun 2022.

“Untuk memudahkan, imunisasi bisa dilakukan sekolah, Puskesmas dan Posyandu di gampong,” pungkasnya.

Editor:

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...