Pusing dan Mual-Mual, Warga Aceh Utara Diduga Keracunan Amonia PT PIM
Foto: Muliyadi/HabaAceh.id“Setelah mendapat perawatan kami hanya diberikan satu botol susu beruang,” katanya.
Aceh Utara - Sejumlah warga di Desa Tambon Baroh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara mengalami keracunan akibat terhirup gas amonia PT. Pupuk Iskandar Muda (PT. PIM), Jumat (6/1) malam.
Dampak keracunan itu, sebagian warga dilarikan ke Rumah Sakit Prima Inti Medika yang berada di Komplek Perumahan PT PIM, Krueng Geukueh. Warga diduga keracunan itu, umumnya mengeluh pusing, mual dan sesak nafas.
“Saat itu saya sedang menunaikan shalat Isya di rumah, tiba-tiba saya merasa pusing dan mual-mual dikarenakan bau amoniak sangat menyengat,” kata salah seorang warga Tambon Baroh, Ti Aisyah (58) kepada awak media.
Atas kejadian itu warga ramai-ramai mendatangi Rumah Sakit Prima Inti Medika untuk mendapat perawatan.
“Setelah mendapat perawatan kami hanya diberikan satu botol susu beruang,” katanya.
Camat Dewantara, Nawafil Mahyudha, mengatakan pihaknya akan menegur pihak PT PIM dikarenakan sebelumnya ada komitmen PT PIM dengan masyarakat.
“Kami akan tegur PT PIM untuk menjalankan beberapa poin yang disepakati agar dilaksanakan seperti pos tempat lapor, ambulan, santunan dan lainnya,” katanya.

Assistant Vice President (AVP) Humas PT PIM, Dedi Ikhsan, mengatakan setelah mendapat informasi tersebut pihaknya langsung bergerak memberi pendampingan secara langsung kepada warga di Rumah Sakit.
“Saat itu tim langsung melakukan pendampingan dan sekitar pukul 01.30 WIB dini hari tadi kondisi warga normal dan langsung kembali ke rumah masing-masing,” katanya.
Dia mengatakan, setelah dilakukan pengecekan oleh tim lingkungan di area pabrik kondisi sangat normal dan tidak ada kebocoran amoniak. Bahkan pabrik PT PIM tidak melakukan aktivitas dikarenakan kondisi pabrik mati.
“Untuk pelayanan kepada warga kami berkomitmen untuk selalu memberikan pelayanan maksimal. Bahkan kami juga selalu melakukan koordinasi dengan tokoh masyarakat , baik pemuda dan kepolisian,” ujarnya.









Komentar