Editorial

Persiraja Phak Luyak?

Persiraja Phak Luyak?

Toh, baru mengurus klub Persiraja sudah keteter-keteter, bagaimana kalau mengurus orang banyak?

SETELAH turun tahta dari Liga 1 Indonesia, klub bola Tanah Rencong Persiraja Banda Aceh semakin tenar. Sayangnya bukan karena prestasi di Liga 2 yang kian gemilang melainkan persoalan internal manajemen yang diumbar serampangan baik oleh pihak manajemen baru maupun lama.

Tidak begitu paham maksud dari apa yang tengah dipertontonkan apakah sebagai bentuk promosi agar Persiraja lebih dikenal publik atau sedang berupaya meluphak luyak (merusak berkeping-keping) citra klub yang dijuluki "lantak laju" itu.

Tanpa disadari balas pantun antara presiden baru dengan mantan presiden klub dapat menurunkan kecintaan masyarakat Aceh terhadap klub bola yang selama ini sangat dibanggakan oleh pecintanya, bukan hanya fans tetapi masyarakat Aceh pada umumnya. Jangan sampai slogan "Persiraja Sampai Mati" yang melekat di hati para fans dan masyarakat berubah menjadi "Persiraja Kapan Mati".

Aib di internal manajemen yang tenar saat ini soal jual beli saham atau ganti rugi mestinya tidak perlu frontal alias gamblang disampaikan ke publik. Persoalan itu bisa dilakukan dengan pendekatan persuasif, kalau punya niat memajukan klub bola Tanah Rencong itu. Apalagi kedua presiden klub lantak laju merupakan tokoh-tokoh hebat di Aceh. Siapa yang tidak kenal Nazaruddin Dek GAM yang kini merupakan anggota DPR-RI? Begitu juga dengan ketokohan Zulfikar SBY.

Menelisik ketokohan yang diemban dengan kondisi yang terjadi di internal manajemen saat ini sangat mungkin dapat diselesaikan secara arif dan bijaksana. Kegaduhan yang terjadi hanya menjadikan reputasi ketokohan keduanya menjadi pudar. Toh, baru mengurus klub Persiraja sudah keteter-keteter, bagaimana kalau mengurus orang banyak? 

Sungguh miris apa yang dialami Persiraja saat ini, mulai dari gagalnya menjadi tuan rumah pertandingan perdana Liga 2 Indoenesia karena faktor kesiapan, persoalan "mencomot" emblem Pemerintah Aceh di logo klub hingga pemutusan izin pakai Stadion Dimurthala untuk latihan.  

Sudah cukuplah! Masyarakat Aceh ingin Persiraja Banda Aceh menjadi sebuah klub bola yang profesional dan mengharumkan nama Aceh dikancah Liga Indonesia. Dibutuhkan konsentrasi untuk meraih prestasi salah satunya memperkuat skill para pemain dan  kesejahteraan keluarganya. 

Semoga Persiraja terus berjaya untuk membawa nama Tanah Rencong dikenal dunia dari sektor sepak bola. Tentu untuk menggapai itu semua dibutuhkan peran pemerintah daerah. Tidak cukup hanya dengan bonus ketika menang, tetapi diutamakan bagaimana mempertahankan Persiraja Banda Aceh harus tetap ada dan berkarya di bumi Tanah Rencong.

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...