Limbah PT Medco E&P; Mulai Menyerang Ibu Hamil dan Anak-anak

Limbah PT Medco E&P Mulai Menyerang Ibu Hamil dan Anak-anak

“Ini persoalan serius yang harus segera ditangani, terlebih kebanyakan korbannya adalah perempuan, anak-anak, ibu hamil hingga lansia, mereka cukup rentan bila udara tidak sehat,” katanya.

Banda Aceh - Limbah udara dari proses produk minyak dan gas PT.Medco E&P Melaka di Aceh Timur semakin meresahkan warga sekitar. Bau tak sedap dari pencemaran itu sudah mulai memakan korban dari kalangan ibu hamil dan anak-anak.

Menurut data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, kejadian ini sudah sejak 2019 atau empat tahun silam. Bahkan pada tanggal 9 April 2021, ada 250 jiwa  warga Gampong Panton Rayeuk, Kecamatan Banda Alam terpaksa mengungsi ke kantor Camat.

Namun hingga sekarang belum ada langkah konkrit dari perusahaan BUMN tersebut untuk penanggulangannya. Warga juga sudah pernah melaporkan kasus ini ke Pemerintah dan DPRK Aceh Timur. Tetapi solusi yang ditawarkan belum menyentuh akar masalah.

“Ini persoalan serius yang harus segera ditangani, terlebih kebanyakan korbannya adalah perempuan, anak-anak, ibu hamil hingga lansia, mereka cukup rentan bila udara tidak sehat,” kata Kadiv Advokasi dan Kampanye Walhi Aceh, Afifuddin Acal, Selasa (10/1).

Afifuddin mengatakan, masyarakat paling terdampak dari pencemaran itu mereka yang berada di ring satu, yaitu Gampong Blang Nisam, Alue Ie Mirah, Suka Makmur dan Jambo Lubok sudah 4 tahun lebih mencium bau busuk yang membuat mual, muntah hingga pingsan.

Berbagai protes telah berulang kali dilayangkan oleh warga sejak 2019 lalu tetapi hingga awal 2023 belum ada titik temu. Sementara masyarakat yang terdampak berulang kali dilarikan ke rumah sakit terutama warga yang mengalami pingsan.

Menurut laporan warga, tambah Afif, sejak 2019 hingga akhir 2022 sudah 13 orang lebih yang menjadi korban dan semua harus dirawat di Puskesmas. Bahkan sebagian besar korban harus dilarikan ke rumah sakit umum daerah Zubir Mahmud di Idi, Kabupaten Aceh Timur.

“Keluhan mereka sesak nafas, mual, muntah-muntah, pusing, lemas hingga ada yang pingsan setelah menghirup bau busuk dari limbah proses produksi PT.Medco E&P Malaka. Korbannya lagi-lagi kebanyakan adalah perempuan, anak-anak serta lansia yang berusia di atas 80 tahun,” ujar Afif sebagaimana laporan warga kepada Walhi Aceh, 5 Januari 2023.

“Ini kan lucu, solusi yang ditawarkan kok warga yang harus beradaptasi, seharusnya PT Medco lah yang harus cari solusi dan bertanggungjawab,” lanjutnya.

Oleh karena itu, WALHI Aceh meminta Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo untuk segera bersikap dan segera menyelesaikan kasus pencemaran libah ini. Walhi bersama warga terdampak juga akan menggugat PT Medco E&P Malaka atas dugaan pembiaran pencemaran tersebut.

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...