Diduga Lecehkan Santri, Begini Tanggapan Pimpinan Ponpes di Pidie
Sigli - Pimpinan Pondok Pesantren (ponpes) di Pidie berinisial AJ (39), membantah telah melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah santriwati di kompleks lembaga pendidikan yang dia pimpin.
"Saya tidak melakukan itu dan itu fitnah," kata AJ saat dikonfirmasi, Kamis (23/5).
AJ membantah laporan santri yang dilayangkan kepadanya, meski dia mengakui pernah memanggil santri ke kamarnya untuk belajar tambahan pengulangan bacaan dan penerjemahan kitab berdua dengannya.
AJ menegaskan, soal pelecehan seksual yang dilaporkan ke Polres Pidie itu tidak benar.
"Di bilik ini, saya hanya duduk di samping dan menepuk lutut anak itu, sembari mengatakan paken bangai that (kenapa bodoh begitu). Tidak lebih dari itu," ujarnya.
Mengenai pengakuan salah satu santri yang menyebut dirinya sering masuk ke bilik santri itu, Aj mengatakan santri putri tersebut telah dianggap sebagai anaknya, dan dirinya sering memberikan uang untuk anak itu. Bahkan menurut AJ, termasuk pakaian dalam santri tersebut dia yang membelikannya.
AJ mengatakan, pada awal Oktober 2023 dirinya mengalami stroke ringan, dan mengakui pernah meminta DJ santri putri yang mondok di ponpes tersebut untuk melumuri minyak gosok ke bagian punggungnya.
"Tidak benar seperti yang dilaporkan bahwa setelah dia memijat saya, kemudian saya memintanya memijat badannya," ujar dia.
AJ mengaku, suatu ketika pada November lalu mengetahui santrinya DJ sedang sakit dan dirinya datang menjenguk, serta memberikan minyak gosok untuk digunakan di perut, namun menurutnya malah korban meminta AJ untuk mengoles minyak obat di bagian perut santri tersebut.
Menurut oknum pimpinan ponpes itu, setiap dirinya meminta santri tersebut membantu memijat dirinya, selalu atas pengetahuan salah satu guru di lembaga itu.
"Bukan memijat tapi saya memintanya untuk mengoles minyak gusuk ke punggung saya. Ada tiga kali saya meminta tolong pada DJ," ujar oknum ustad itu.
Dia mengaku, sudah dipanggil sebanyak satu kali oleh Polres Pidie karena laporan santri atas dugaan pelecehan, panggilan tersebut telah dipenuhi pada 27 Februari lalu, dan menurut dia laporan santri sangat bertentangan dengan kejadian sebenarnya.
Sebelumnya diberitakan, AJ (39) seorang pimpinan lembaga pendidikan atau pondok pesantren di Pidie dilaporkan telah melakukan dugaan pelecehan seksual terhadap santri putrinya.
Kejadian asusila itu terkuak ketika para korban saling menceritakan, bahwa mereka juga pernah mendapat perlakuan yang hampir sama oleh AJ.
Kasus tersebut telah dilaporkan korban ke SPKT Polres Pidie pada 26 Februari 2024 lalu.
Informasi yang diperoleh HabaAceh.id, terdapat delapan santri yang menjadi korban pelecehan seksual oknum pimpinan ponpes tersebut.
Para orang tua korban berharap pihak kepolisian serius menangani kasus ini, dan kejadian tersebut tidak kembali terulang kepada santri yang lain.
Kapolres Pidie, AKBP Imam Asfali mengatakan, polisi telah menetapkan terduga oknum pimpinan ponpes sebagai tersangka dalam kasus tersebut, dan terlapor AJ sudah dimintai keterangan sebanyak dua kali.
Dia mengatakan, AJ tidak dikurung karena bertindak kooperatif. Selain itu, kasus tersebut juga sensitif karena menyangkut lembaga pendidikan sehingga pihak kepolisian hati-hati dalam bertindak.
"Masih melengkapi berkas perkara, setelah itu akan dilimpahkan ke kejaksaan," ujar Imam.






Komentar