Ziarah Massal Mengenang 18 Tahun Tsunami Aceh

Ziarah Massal Mengenang 18 Tahun Tsunami AcehFoto: Rianza/HabaAceh.id
Warga berdoa di kuburan massal Siron, Aceh Besar

“Banyak yang harus dicapai mungkin, jangan bersedih di situ. Karena kehidupan masih banyak yang berlanjut, enggak mungkin kita balik ke belakang,” sebut Aya.

Banda Aceh - Suara lantunan ayat suci terdengar begitu kentara saat memasuki pintu gerbang Kuburan Massal Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Senin (26/12). 

Sayup-sayup isakan tangis dibarengi untaian doa dari kumpulan keluarga korban gempa dan tsunami Aceh terus mengalir di atas tanah lapang itu.

Tepat hari ini, 18 tahun lalu, goncangan dahsyat dan gelombang tsunami memporak-porandakan bumi Serambi Mekkah. Setidaknya musibah yang menggetarkan dunia itu merenggut sekitar 230 ribu korban jiwa.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, warga atau keluarga korban yang berasal dari berbagai daerah di Aceh datang berziarah ke kuburan massal yang ada di wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh.

Pantauan HabaAceh.id, sejak pagi di Kuburan Massal Siron, warga beragama muslim dan non-muslim sudah mulai berdatangan. Mereka datang sambil menenteng bunga, air mineral dan juga buku yasin. Bahkan, tak sedikit yang membawa bekal untuk disantap bersama keluarga. 

Serangkaian agenda dilaksanakan di perkarangan Kuburan Massal Siron, mulai dari zikir bersama, penampilan teater bencana tsunami, doa bersama hingga tausyiah mengenang musibah gempa tsunami Aceh 2024.

Salah seorang warga, Rosmiati (53) menyampaikan, ia saban tahun berziarah ke Kuburan Massal Siron pasca peristiwa yang merenggut nyawa keluarga besarnya.

“Tiap tahun kami datang ziarah ke sini. Enggak ada tempat lain. Sudah 18 tahun anak saya, bapak saya, kakak saya, keponakan saya habis semuanya,” kata Rosmiati kepada wartawan.

Kendati telah berlalu 18 tahun, kata Rosmiati, kesedihannya tak kunjung padam saat mengingat musibah dahsyat itu. Terlebih saat momen peringatan tsunami seperti ini.

Rosmiati merupakan warga Panterik, Kecamatan Luengbata. Ia yakin anggota keluarganya yang hilang dihempas gelombang tsunami di makamkan di sana. 

“Yakin keluarga di makamkan di sini. InsyaAllah jangan ada lagi, cukup sekali itu,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Aya, salah seorang warga Banda Aceh. Setiap tahunnya ia tak pernah absen ke Kuburan Massal Siron demi mengirim doa untuk keluarganya yang hilang saat musibah tsunami. 

“Delapan orang keluarga hilang. Hal ini tetap menjadi trauma di masa lalu juga,” katanya.

Meski demikian, kata Aya, semua harus berani bangkit, jangan berlarut-larut dalam kesedihan, karena di balik musibah ada hikmah yang dapat dipetik dan dijadikan pelajaran berharga.

“Banyak yang harus dicapai mungkin, jangan bersedih di situ. Karena kehidupan masih banyak yang berlanjut, enggak mungkin kita balik ke belakang,” sebut Aya.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Achmad Marzuki menyampaikan, momentum peringatan gempa dan tsunami Aceh menjadi kesempatan untuk mengenang saudara dan masyarakat yang telah berpulang lebih awal. 

Marzuki menyebut, gempa dan tsunami Aceh 2004 silam memberi ibrah bahwa semua bisa dilalui jika dilakukan secara bersama-sama, tanpa memandang suku dan bangsa.

“Saya hanya berpesan, momentum tsunami ini bisa memperkuat persatuan dan kesatuan kita untuk membangun Aceh lebih maju ke depan. Kita tidak bisa lepas dari kehidupan orang lain,” ungkapnya.

“Karena apapun yang kita lakukan semua akan kita tinggalkan. Semua kelak semoga dicatat sebagai amal ibadah selama hidup kita di dunia ini,” tambahnya.

Editor:

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...