Warga Desa Juar Aceh Tamiang Minta Jembatan Penghubung Direnovasi
Foto: Zulfitra/HabaAceh.id"Ada jalan lain. Tapi warga lebih memilih lewat jembatan ini. Kalau jalan yang satu lagi, jaraknya lebih jauh, dan warga harus mutar lagi. Kalau ini dapat memangkas waktu sekitar 15 menit untuk bisa sampai ke pekan Pantai Cempa," katanya.
Aceh Tamiang - Warga Desa Juar, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang mengharapkan adanya perbaikan jembatan penghubung di desa itu yang kondisinya mulai mengkhawatirkan.
Pantauan di lokasi, terdapat beberapa titik lantai jembatan yang kondisinya bolong. Selain itu, seling pengikat jembatan juga terlihat sudah mulai termakan karat, yang membuat jembatan terlihat semakin mengkhawatirkan.
Salah satu tokoh desa setempat, Muhammad Hud (41) mengatakan, akibat kondisi jembatan yang rusak saat ini, masyarakat di desanya kesulitan dalam mengeluarkan hasil perkebunan mereka.
Lantainya sebagian mulai banyak yang lapuk serta bolong di sana-sini semakin menyulitkan mereka saat menyebrang.
"Harus hati-hati. Kalau tidak bisa terperosok ke sungai," kata Muhammad Hud, Selasa, (17/1).
Menurutnya, jembatan itu saat ini salah satu akses utama masyarakat Desa Juar. Selain untuk mengeluarkan hasil pertanian, jembatan itu termasuk akses utama yang digunakan masyarakat untuk beraktivitas lainnya, termasuk anak-anak sekolah.
Ia menyebutkan, masyarakat lebih memilih menggunakan jembatan yang ada saat ini dibandingkan melewati akses yang lainnya.
"Ada jalan lain. Tapi warga lebih memilih lewat jembatan ini. Kalau jalan yang satu lagi, jaraknya lebih jauh, dan warga harus mutar lagi. Kalau ini dapat memangkas waktu sekitar 15 menit untuk bisa sampai ke pekan Pantai Cempa," katanya.
Hud mengaku, dalam menjaga dan merawat jembatan tersebut, upaya perbaikan secara swadaya telah mereka lakukan seperti mengganti dan menyisip papan lantai yang jebol. Namun, itu tidak bertahan lama.
Hal senada disampaikan tokoh Pemuda Desa Juar, Abdul Hamid, (33). Ia mengungkapkan, jembatan yang digunakan warga saat ini merupakan jembatan ke 3. Sebelumnya, warga Juar pernah membangun jembatan yang sama yang berjarak kurang lebih 20 meter dari posisi jembatan sekarang.
Tetapi, jembatan itu harus di bongkar dan dipindahkan akibat tanah pada pondasi jembatan longsor, yang mengakibatkan jembatan menjadi miring dan tidak dapat di lalui.
"Lalu dibuatlah jembatan kedua di lokasi saat ini, tapi ketika banjir bandang di 2006 jembatan itu pun putus," katanya.
Sekitar 10 tahun lalu pemerintah disebut kembali membangun jembatan gantung untuk yang ketiga kalinya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu jembatan itupun kini mulai rusak.
Kondisinya disebut tidak sekokoh dulu lagi. Di samping itu, posisinya juga terlihat sudah sedikit agak bergeser dari posisi sebelumnya. Ia menduga, hal itu terjadi akibat hantaman arus air sungai.
"Terutama ketika banjir. Hantaman air semakin keras menabrak pondasi jembatan, sehingga posisinya saat ini sudah terlihat bergeser," katanya.
Selain kondisi jembatan, warga juga mengeluhkan besi bekas material jembatan lama yang sudah ambruk. Pasalnya, keberadaan material tersebut sangat membahayakan warga, khususnya mereka yang menggunakan perahu motor saat mengangkut hasil perkebunan.
"Besi bekas jembatan yang bergelantungan ke sungai itu sangat mengganggu. Dan membahayakan. Sebab posisinya di tengah-tengah sungai, takutnya sewaktu-waktu tertabrak bot warga," katanya.
"Kami berharap perhatian pemerintah agar segera membantu merenovasi jembatan. Karena semakin lama, papan lantainya semakin banyak yang lapuk," katanya.
Warga, kata dia, tidak berani memotong atau membersihkan besi bekas jembatan itu. Mereka takut nantinya disalahkan pemerintah, sebab material itu merupakan aset pemerintah meskipun sudah tidak dapat digunakan lagi.
"Kami ndak berani sembarang bersihkan atau motong besi itu, karena itu punya pemerintah, takutnya ntar kami yang disalahkan, walaupun itu membahayakan warga," ujarnya.






Komentar