Peringati 18 Tahun Tsunami, Warga Krueng Mane Larut Dalam Doa

Peringati 18 Tahun Tsunami, Warga Krueng Mane Larut Dalam DoaFoto: Muliyadi/HabaAceh.id
Warga Krueng Mane Larut dalam Doa dan Zikir Mengenang Tsunami di Meunasah Gampong Tanoh Anoe.

“Doa dan zikir akbar merupakan agenda rutin yang terus dilakukan setiap tahunnya dalam mengenang bencana tsunami oleh masyarakat di kawasan pesisir ini,” ujarnya.

Aceh Utara - Ratusan masyarakat keluarga dan korban tsunami di pesisir pantai Desa Tanoh Anoe, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, larut dalam doa bersama memperingati 18 tahun gempa dan tsunami Aceh yang berlangsung di Meunasah (Musala) Desa setempat, (26/12). 

Keuchik Tanoh Anoe, Amiruddin,  mengatakan pada peringatan gempa tsunami Aceh itu para nelayan menghentikan aktivitas melaut dan ikut melakukan doa bersama.

“Untuk hari ini nelayan di kawasan pesisir ini menghentikan aktivitas melaut untuk memperingati bencana gempa tsunami dengan doa bersama,” kata Amiruddin.

Selain doa bersama, ratusan korban dan keluarga korban juga mendapatkan santunan dari hasil patungan swadaya nelayan dan masyarakat sekitar pesisir.

Dia menyebutkan, sekitar 248 warga dari lima desa di kawasan setempat meninggal dunia dalam musibah bencana tsunami 26 Desember 2004 lalu. 

“Doa dan zikir akbar merupakan agenda rutin yang terus dilakukan setiap tahunnya dalam mengenang bencana tsunami oleh masyarakat di kawasan pesisir ini,” ujarnya. 

Peristiwa tsunami Aceh 18 tahun lalu sangat membekas dihati kita semua. Kita harus bisa mengambil hikmah dari musibah tersebut," lanjutnya. 

Karena itu, zikir akbar doa bersama ini sebagai penghormatan kepada para syuhada korban bencana tsunami.

"Kita doakan semoga syuhada ditempatkan yang mulia disisi Allah SWT," imbuhnya.

Salah seorang korban asal desa Tanoh Anoe, Fauziah, mengaku meski sudah 18 tahun berlalu namun peristiwa itu masih membekas diingatannya. Fauziah masih ingat betul bagaimana dahsyatnya gelombang tsunami menerjang wilayah pesisir Aceh Utara kala itu. 

“Gelombang tinggi itu bahkan airnya berwarna hitam, menghancurkan seluruh rumah di desa kami,” katanya.

Jika mengingat peristiwa itu, kata Fauziah, dirinya berfikir seperti dunia telah kiamat. 

“Ini bentuk teguran Allah kepada umatnya dan bahkan di mana kita yang masih diberi kesempatan hidup masih diberikan kesempatan untuk menjalankan perintahnya dan meninggalkan larangannya," tuturnya. 

Editor:

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...