Cerita Kopi Gayo, Kebun Pertama dan Ekspor Sejak Dulu Kala
Foto: Arsadi/HabaAceh.idSebelum tahun 1920, Veenhuyzen, orang Belanda menebang pohon membuka lahan untuk dijadikan perkebunan. Mulanya Veenhuyzen dengan tiga anaknya hendak menanam kentang namun hasilnya tidak memuaskan mereka. Veenhuyzen kemudian beralih menanam kopi dengan membuka lahan 12 hektar di kawasan tersebut. Selain kopi, Veenhuyzen juga menanam sayuran saat itu
Aceh Tengah - Terkenal punya cita rasa khas dengan aroma yang kuat, kini kopi Gayo telah dikenal dunia. Dalam catatan sejarah, kopi dari dataran tinggi di Aceh ini telah menjadi komoditi ekspor sejak lama.
Komoditi kopi di Gayo dikenalkan oleh Belanda. Adalah Desa Paya Tumpi Berada di pintu gerbang KotaTakengon dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani kopi Gayo. Kampung Paya Tumpi Baru menyimpan sejarah perkebunan kopi Arabika Gayo. Situs-situs peninggalan perkebunan kopi pada zaman Kolonial Belanda masih dapat ditemui hingga saat ini.
Dimekarkan sebagai desa defenitif, pada tahun 2004 yang sebelumnya masih menjadi bagian Kampung Paya Tumpi sebagai Kampung Induk. Berdasarkan catatan sejarah, di masa kolonial Belanda, Paya Tumpi merupakan kawasan pertama perkebunan kopi Hindia Belanda di daerah Dataran Tinggi Gayo.
Sampai dengan saat ini, Paya Tumpi Baru dikenal sebagai kawasan perkebunan kopi Arabika Gayo dan lokasi pembibitan. Di kampung ini juga terdapat pusat Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk wilayah kerja di Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah.
Pertama kali Kolonial Belanda melakukan pengelolaan perkebunan Kopi Arabika secara komersial di Gayo adalah di Paya Tumpi Baru, tepatnya di Totor Pemulo, Paya Tumpi Baru.
Sebelum tahun 1920, Veenhuyzen, orang Belanda menebang pohon membuka lahan untuk dijadikan perkebunan. Mulanya Veenhuyzen dengan tiga anaknya hendak menanam kentang namun hasilnya tidak memuaskan mereka. Veenhuyzen kemudian beralih menanam kopi dengan membuka lahan 12 hektar di kawasan tersebut. Selain kopi, Veenhuyzen juga menanam sayuran saat itu.
Berdasarkan penuturan Zulfikar Ahmad pemerhati sejarah yang banyak memiliki literatur sejarah yang ditulis Belanda, dalam 'Sarasehan Dulu dan Kini' Culture Revisit Paya Tumpi Baru, dari desa inilah kemudian perkebunan Kopi Arabica Gayo kemudian berkembang luas di Aceh Tengah, Bener Meriah hingga Gayo Lues.
Waktu itu, hasil panen kopi dan sayuran Venhuyzeen dibawa ke Bireuen dengan truk dan kemudian dipasarkan ke Banda Aceh atau Langsa dengan kereta api. Perusahaan yang dibuat Venhyuzeen dinamai dengan Paya Tumpi.Masyarakat lokal juga kemudian tertarik menanam kopi dan sayuran.
Kesuksesan Veenhuyzen kemudian dilirik oleh Dinas Informasi Pertanian Hindia Belanda Hingga akhirnya, pada tahun 1932. Produksi kopi yang kemudian melimpah mulai dilirik oleh orang-orang Cina, Arab dan Melayu yang menguasai perdagangan di Takengon. Selanjutnya kopi asal dari perkebunan ini mulai di ekspor melalui Lhokseumawe dan kadang-kadang dijual ke Medan, Sumatera Utara bahkan kemudian ke Manca Negara.
Dikutip dari Tulisan Darmawan Masri, menurut Zulfikar Ahmad, kopi Gayo pertama kali di ekspor pada tahun 1929. Kemudian pada tahun 1938, hanya dalam jangka waktu 9 tahun saja, nilai ekspornya sudah mencapai 82.546 gulden atau setara dengan Rp. 594 Juta (Kurs Rupiah saat ini).
Darmawan Masri menulis, melihat perkembangan ekonomi dalam bidang kopi ini semakin menjanjikan, studi lainnya yang didapat, kolonial Belanda selanjutnya memetakan wilayah-wilayah yang bagus ditanami komoditi yang cukup di gemari didunia itu. Sedikitnya ada 3 blok yang dipetakan yakni Blok A mencakup wilayah Paya Tumpi, Blang Gele, Bies hingga ke Jamur Barat, Silih Nara. Blok B kawasan Bergendal hingga ke Sp Tiga Bener Meriah. Sementara Blok C di kawasan Lampahan.
Selanjutnya, perkebunan kopi Arabika di Dataran Tinggi Gayo, terus berkembang pesat. Penduduk pribumi kemudian ikut membudidayakan kopi Arabika dan Robusta hingga kemudian mayoritas masyarakat Gayo berprofesi sebagai petani kopi hingga saat ini. (Arsadi L)





Komentar