Ikan Terkapar, Tsunami dan Kisah Oja Selamat dari Maut

Ikan Terkapar, Tsunami dan Kisah Oja Selamat dari MautFoto: Dok keluarga
Roza Novinadi duduk bersama Mr.James Robert dua tahun setelah tsunami

“Dek banyak kali ikan, ayo cepat pulang ke rumah ambil tempat,” begitu kata Oja menirukan ucapan kakanya.

Meulaboh-  Oja kecil kini sudah dewasa. Kisah 18 tahun silam masih terekam baik di memori sang pemuda berusia 26 tahun itu. Roza Noviandi begitu nama lengkapnya, ia salah seorang yang berjuang melawan maut di tengah gelombang dahsyat tsunami 26 Desember 2004 silam.

Ahad pagi 18 tahun lalu, Oja sekeluarga tengah sarapan di rumah mereka di Desa Pasir, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Tiba-bumi bumi berguncang, lantai rumah mereka bergetar dan mengayun kuat. Seketika itu mereka keluar rumah dan duduk di teras.

Usai gempa Oja dan kakaknya Rida menghampiri pantai yang tak jauh di belakang rumah. Di sana tampak begitu banyak ikan terpapar di tepian pantai. Aneh, tak biasa air laut surut. Rida menyuruh Oja untuk kembali ke rumah mengambil sesuatu yang bisa menampung ikan.

“Dek banyak kali ikan, ayo cepat pulang ke rumah ambil tempat,” begitu kata Oja menirukan ucapan kakanya. Usia Oja ketika itu masih 8 tahun, duduk di bangku kelas 3 SD.

Oja bergegas mengambil karung goni dan menghampiri kakaknya yang menunggu di pantai. Ia dan kakak kemudian memungut ikan-ikan yang menggelepar di atas pasir. Banyak orang melakukan hal serupa. Sebab, ada ratusan bahkan ribuan ikan terdampat di pasir tak berair.

“Beberapa kali saya bolak-balik bawa pulang ikan. Ikannya segar-segar dan banyak sekali, tapi seperti ada bau gas. Saya sempat tutup hidung karena baunya menyengat,” tutur Oja.

Lalu dari tengah laut terdengar gemuruh dahsyat. Suara seperti angin topan. Tiba-tiba ombak warna hitam pekat terlihat, semua orang di sana kocar-kacir dengan jeritan yang tak henti, “geulumbang rayaaaa” (gelombang besar). Oja dan kakak bergegas pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, ombak pun tiba, Oja dan keluaganya diterjang gelombang. Sambil menggenggam erat tangan nenek, ayah, kakak Rida, kak Rina serta ibunya menuju ke belakang rumah untuk berlindung.

Tak lama kemudian ombak pecah, pegangan erat mereka terlepas. Oja terombang- ambing. Hanya kayu dan runtuhan bangunan yang terlihat di matanya. Dari kejauhan Oja dan ayah melihat sebuah bangunan berlantai dua. Mereka bergegas menghampiri dan naik ke lantai dua rumah itu.

Beberapa saat kemudian gelombang kedua datang, bangunan yang ditempati goyang dan runtuh. Oja dan ayah terjatuh. Air laut yang begitu pekat menghimpit Oja ke dalam reruntuhan. Kaki  Oja tersayat seng dan berdarah.

“Sore harinya saya digendong ayah ke salah satu Ruko dilantai tiga, di samping Masjid Desa Ujung Kalak, Meulaboh. Saya terus menangis,” kata Oja.

“Orang lain di sekitar kami juga begitu, ada yang menangis mungkin memikirkan nasib keluarga masing-masing. Karena waktu itu sudah terlihat jenazah-jenazah yang tergelatak di sekitar kami, ada bayi ada orang tua juga,” tambahnya.

Darah di kaki Oja terus mengalir tak henti.  Sambil menangis pikiran Oja menji tidak karuan karena ibu dan kakanya Rida yang terpisah saat ombak pecah belum tau di mana.  Beruntung masih ada sosok ayah yang berada di sampingnya.

Hari sudah senja. Oja dan ayahnya dan beberapa orang lain menginap di atas ruko tersebut untuk beristirahat. Esok harinya, Senin 27 Desember 2004 sekira pukul 08:00 Wib, semua yang menginap di ruko itu turun mencari tempat lain termasuk Oja dan ayah. “Saya dan ayah menuju ke tempat pengungsian di Desa Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat,” ujarnya.

Di pengungsian Oja tak jua menemukan sosok ibu, nenek serta kakanya Rida dan Rina. Yang ia lihat orang -orang tidak dikenal, salah seorang diantaranya Mr.James Robert, orang yang kemudian membantu mengatasi depresinya paska musibah itu. “Mr. James dan Ietrinya Zo’e bilang kepada saya jangan lagi mengingat kejadian yang sudah kelam”.

Di pengungsian Oja masih sering menanyakan di mana ibu dan kakaknya berada kepada sang ayah, namun ayah mengatakan ibu dan kakak pulang kampung. Dua tahun kemudian Oja baru tahu ibu dan kakak telah tiada, sudah menghadap Sang Pencipta walau sampai saat ini jenazah mamak, nenek, dan kedua kakak tidak tahu dikuburkan dimana.

Tahun terus berganti. Kini Oja telah dewasa dan menjadi anak yang patuh dan taat beribadah. Ia mengatakan, di setiap sujudnya tidak lupa mendoakan kelurganya yang telah meninggalkan dia dan ayahnya sejak 18 tahun silam.

Editor:

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...