Cuan Tanah Liat tak Lagi Bersahabat

Cuan Tanah Liat tak Lagi Bersahabat Foto: Zulfitra/HabaAceh.id
Pengrajin babu bata di Desa Tupah, Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang menyusun batu bata di atas tunggu untuk dibakar. Foto direkam, Senin (16/1).

“Biasanya harga tanah liat untuk satu dump truk sebesar Rp 220 ribu, namun saat ini meningkat menjadi Rp 330 ribu. Naiknya jauh kali. Udah gitu isinya pun berkurang," kata Pitoyo

Aceh Tamiang –  Siang itu matahari bersinar begitu cerah menyilaukan mata. Dari dalam tungku pembakaran batu bata berukuran kurang lebih 5x7 meter persegi, tangan Pitoyo, 34 tahun, menyusun satu persatu tanah liat yang telah dicetak dan dijemur untuk dibakar. 

Pitoyo tidak sendiri, ia dibantu abang kandungannya, Kurniawan berusia 35 tahun. Kurniawan tampak lalu lalang dari tempat penjemuran  ke pintu tungku pembakaran. Keduanya terus beraktivitas meskipun jam sudah menunjukkan jam 11.16 WIB. 

Pitoyo merupakan salah seorang pengrajin batu bata merah di Desa Tupah, Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang. Usaha itu sudah dia geluti sejak beberapa tahun lalu dan hingga kini masih terus bertahan meski beberapa bulan belakangan permintaan kian berkurang.

Para pengrajin batu bata merah di Kabupaten Aceh Tamiang akhir-akhir ini mengaku mengalami sejumlah kendala dalam menjalankan usaha. Salah satunya dipicu oleh kenaikan harga bahan baku yang terpaksa para pengrajin menaikan harga batu-bata.

Akibatnya perputaran produksi dari tanah liat melambat. Kenaikan harga jual yang tujuannya untuk mengimbangi harga mata uang saat ini ternyata terjadi adalah sebaliknya. Penghasilan cuan dari sector batu-bata menjadi tak lagi bersahabat. 

Menurut Pitoyo, dirinya dan sejumlah pengrajin batu-batu lainnya sekitar lima bulan lalu menaikkan harga jual batu bata merah. Hal itu dilakukan dikarenakan semakin sulitnya mendapatkan tanah liat sebagai bahan baku utama.  

“Biasanya harga tanah liat untuk satu dump truk sebesar Rp 220 ribu, namun saat ini meningkat menjadi Rp 330 ribu. Naiknya jauh kali. Udah gitu isinya pun berkurang," kata Pitoyo kepada Habaaceh.id di sela-sela aktivitasnya, Senin 16 Januari 2023. 

Sebelum terjadinya kenaikan harga, per mobil tanah liat dapat menghasilkan sebanyak 4.000 hingga 4.400 batu bata, sedang sekarang ini hanya menghasilkan 3.000 hingga 3.500 batu. Faktor itu yang membuat keputusan para pengrajin menaikkan harga jual.

“Jasa cetak batu bata juga mengalami kenaikan, kalau dulunya Rp 80/batu sekarang menjadi Rp100/batu rupiah. Ongkos jemur, langsir, susun, hingga bakar, sekarang sudah Rp 70/batu dari sebelumnya Rp 45 rupiah, semuanya serba naik,” katanya. 

Sementara produksi batu bata selama susahnya mendapat tanah liat, dalam sekali putaran hanya mampu memproduksi sebanyak 40 ribu biji batu. Waktu yang dibutuhkan untuk sekali putaran hingga menghasilkan batu bata merah siap jual kurang lebih 45 hingga 49 hari.

Senada dengan Pitoyo juga disampaikan pengrajin lain Suhendra, 31 tahun. Menurutnya, sejak harga jual batu bata naik, konsumen banyak yang komplain bahkan Sebagian memutuskan untuk berlangganan. "Alasannya mereka akan beli setelah normal kembali," keluh Hendra.

Saat ini harga jual batu bata merah Rp380 rupiah/biji. Harga itu, kata dia, belum termasuk biaya muat dan antar atau ongkos mobil. "Untuk ongkos bongkar muat Rp 40 rupiah per biji kalau untuk ongkos mobil tentatif, tergantung jauh dekatnya," katanya. 

Tak hanya itu, kenaikan harga jual batu bata merah juga dipengaruhi oleh kenaikan bahan baku alat bakar seperti kayu bakar, jangkos dan sekam padi.  Harga kayu bakar menurut para pengrajin batu bat aini Rp350 ribu/mobil, jangkos Rp 200 ribu/mobil dan sekam Rp 7000/karung. Sedangkan untuk sekali bakar, 3 hingga 4 truk jangkos, 1 truk kayu, dan 40 karung sekam padi

Saat ini Pitoyo, Hendra dan pengusaha batu bata lain di Kabupaten Aceh Tamiang hanya bisa dengan kondisi yang ada. Mereka tetap melakoni usaha yang sudah dirintis puluhan tahun itu. Tak banyak yang diharap mereka hanya bisa berdoa agar tetap sehat dan bisa berusaha.

Editor:

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...