Breaking News

Puluhan Warga di Aceh Barat Blokir Jalan Hauling Batubara

Puluhan Warga di Aceh Barat Blokir Jalan Hauling BatubaraFoto: Vinda Eka Saputra/HabaAceh.id
Puluhan masyarakat di Kecamatan Kaway XVI menggelar aksi blokir jalan hauling di Desa Tumpok Ladang

Meulaboh – Puluhan masyarakat dari tujuh desa di Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, memblokir jalan hauling batubara di Desa Tumpok Ladang, Senin (27/5). Masyarakat meminta agar mobil pengangkut batubara tidak melintasi wilayah tersebut.

Masyarakat yang menggelar aksi blokir jalan hauling tersebut berasal dari Desa Pucok Reudeup, Bale, SP 5, Tumpok Ladang, Pasi Tengoh, Pasie Aceh dan Desa Reudeup.

“Kami menuntut hauling (jalur pengangkutan) batubara yang dilakukan oleh pemerintah atau vendor manapun kalau bisa jangan ada lagi (melintasi pemukiman warga) karena mengganggu masyarakat, jalan dan pemukiman warga,” kata salah seorang peserta aksi, Maimunah, Senin (27/5).

Selain itu sebut Maimunah, mereka juga meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat dan pihak terkait lainnya, terutama perusahaan batubara atau vendor untuk menanggapi dan merealisasikan tuntutan mereka.

“Dulu jalan kami jelek (sekarang sudah bagus) terulang kembali jalan kami jelek sekarang (rusak akibat aktivitas hauling batubara), seperti kehidupan kami dulu dibilang kami masyarakat pucok (pedalaman), setelah ada jalan aspal kami senang, tapi setelah ada batubara sekarang sudah kembali lagi hancur (jalan),” kataya.

Maimunah menjelaskan, selama ini truk–truk pengangkut batubara melintas di desa mereka dari pagi hingga malam. Padahal menurutnya, sudah ada aturan dari pemerintah bahwasanya truk batubara tidak boleh melakukan aktivitas hauling di siang hari.

“Siang-malam (aktivitas hauling batuara), jadi kami sudah makan debu, tidur tidak nyenyak dan terganggu lagi,” ujar Maimunah.

Hal senada juga disampaikan oleh perwakilan pondok pesantren di wilayah setempat, Rahmad Humaidi. Menurutnya aktivitas hauling batubara yang selama ini dilakukan oleh perusahaan tambang telah mengganggu proses belajar santri.

“Sebelum ada ini (hauling) lalu lalang kan kondisi belajar dan mengajar itu lebih nyaman dan tidak terganggu, tapi sekarang itu karena sudah ada lalu lalang (truk pengangkut batubara) sudah mulai terganggu,” kata Rahmad.

Rahmad menjelaskan, aktivitas hauling batubara yang melintasi wilayah tersebut juga membuat debu bertebaran, sehingga menimbulkan polusi udara dan mengotori baju para santri.

“Itu sudah pasti (debu) kalau yang jemur pakaian (menjadi kotor akibat debu), kami meminta segera ditindak lanjuti (jalur hauling batubara),” katanya.

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...