Monas-Nusar Menang di Pilkada Simeulue, Kok Bisa?

Foto: kiriman ke redaksi HabaAceh.id
Monas-Nusar saat kampanye akbar di Kampung Ai, Simeulue, 17 November 2024.

EMPAT tahun lalu, ketika saya masih aktif mengisi kolom tajuk di media online portalsatu.com, sebuah media lokal Aceh yang saya pimpin, pernah menulis tentang Simeulue dan Mohammad Nasrun. Tulisan itu tayang pada 19 Agustus 2020.

Waktu itu Monas--sapaan Mohammad Nasrun--masih berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) atau menjelang promosi kenaikan pangkat menjadi Komisaris Besar (Kombes) dan masih menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Jakarta Selatan. Sehingga pada tulisan itu masih AKBP. Judul lengkapnya; AKBP Nasrun Mikaris, Pulanglah!

Kalau di-research ke google, tulisan itu masih bisa dibaca walau foto beliau (Monas) tidak kelihatan lagi berhubung pada takhir tahun 2022, website portalsatu.com sempat diserang virus dan hank. Akibatnya sejumlah artikel menghilang termasuk jawaban dari Monas terhadapat tulisan awal yang mengajaknya untuk pulang kampung.

***

Sebagai seorang dengan profesi jurnalis, saya menyampaikan semua permintaan, harapan dan informasi dari masyarakat atau pejabat publik (fakta) hanya lewat tulisan, baik melalui kolom tajuk atau editorial, straigh news, indeph reporting atau feature.

Tulisan mengajak Monas pulang kampung kelahirannya Simeuleu itu, bukan tanpa sebab. Tahun itu kondisi politik di Simeulue tidak baik-baik saja. Perjalanan kepemipinan bupati dan wakil bupati kala itu "retak" dan saling buka "aib" lewat video-video tak layak. Banyak orang menyebut dengan istilah "video amoral".

Kondisi --maaf-- memalukan yang tengah mendera daerah tempat saya lahir waktu itu, membangkitkan naluri saya sebagai jurnalis. "Saya harus menulis sesuatu untuk Simeulue" kata saya dalam hati. "Harus ada pemimpin yang layak jadi pemimpin di daerahku".

Naluri itu kemudian saya rangkum pada sebuah tajuk, berharap seseorang untuk pulang kampung, kelak jadi pemimpin di daerah tempat saya lahir, Simeulue. Lalu muncullah tulisan seperti saya sebut di atas.

Berikut artikelnya (tayang 19 Agustus 2020) di portalsatu.com

AKBP Nasrun Mikaris, Pulanglah!

PULAU Simeuleu, Aceh, kini sudah tidak asing lagi di telinga setiap orang. Baik secara nasional maupun di seantero dunia. Tak dapat dipungkiri, perolehan ini adalah buah dari pembangunan berkelanjutan dan promosi-promosi yang telah dirintis oleh setiap pemimpin dari masa ke-masa.

Putra-putri dari kabupaten hasil pemekaran Aceh Barat tahun 1999 tersebut, juga semakin menghiasi sejumlah lembaga. Mereka ada di berbagai bidang dan profesi; pegawai negeri, TNI, Polri, kejaksaan, kehakiman, jurnalis, wiraswasta, nelayan handal, petani dan sebagainya. Mereka juga ada di mana-mana; tingkat nasional, provinsi, pada berbagai kabupaten di negeri ini bahkan ada yang bekerja di luar negeri.

Hasil alam Simeulue juga tak kalah melimpah dari daerah lainnya di Aceh bahkan Indonesia. Ada cengkeh, kelapa, durian, pala di setiap perkebunan warga. Di lautan ada lobster dan semua jenis ikan, ditambah panorama alamnya yang indah. Berbagai fasilitas wisata di sana juga telah tersedia, walau masih sederhana.

Transportasi juga telah mendekatkan berbagai lokasi yang sebelumnya jauh. Jalan lingkar kini mengelilingi Simeulue, bandar udara setiap harinya didarati pesawat tujuan Medan, Sumatera Utara dan Aceh, ibu kota provinsi. Kapal Feri yang setiap harinya mondar-mandir dari dan ke Simeulue-Aceh Selatan- Meulaboh dan Aceh Jaya.

Begitulah sekilas kondisi Pulau Simeulue atau Kabupaten Simeulue, Aceh hari ini, meski masih banyak kekurangan di sana- sini. Harapan warga di sana, bagaimana daerah mereka lebih maju dan kehidupan mereka lebih sejahtera di masa mendatang.

***

Untuk mewujudkan itu, tentu saja harus ada tangan-tangan terampil yang bisa memoles agar Simeulue lebih maju sesuai harapan warga. Dan, tangan-tangan terampil itu ada pada putri-putri daerahnya, baik yang saat ini mengabdi di luar Simeulue maupun mereka yang menetap di sana.

Namun, masyarakat punya penilaian sendiri siapa yang menurut mereka lebih mampu dan terampil memimpin daerahnya di masa mendatang di antara putra-putri terbaik itu. Kali ini, penilaian utama tertuju pada putra-putri daerah yang menurut mereka sudah banyak makan "asam-garam" di negeri orang (luar Simeuleu) dan "diperhitungkan". Diperhitungkan adalah sebuah ungkapan kepada seseorang yang memiliki jabatan penting pada sebuah lembaga atau organisasi.

Pertanyaannya mengapa harus putra-putri Simeulue yang menetap dan diperhitungkan di negeri orang? Jawabannya: dapat dipastikan dia sudah tertempa oleh kondisi hidup dan memimpin di wilayah yang bukan tempat lahirnya, dia sudah melihat bagaimana menata, membangun sebuah wilayah dalam perpolitikan yang harmonis, dia sudah memiliki jejaring yang kuat, memiliki kepribadian dan jiwa kepemimpinan yang hakiki.

(Foto hilang)

Lalu siapa orang yang dinilai tepat memimpin Simeulue sesuai kriteria di atas? Tersiar sebuah nama berpangkat perwira menengah di kepolisian negeri ini, yakni AKBP Mohammad Nasrun Mikaris, S.H, M.H., dia kini menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Jakarta Selatan, setelah sebelumnya menempati berbagai posisi setrategis di kepolisian dan sebagai Kepala BNNK Jakarta Timur.

Nasrun Mikaris yang awal tahun mendatang akan berpangkat Komisaris Besar (Kombes) ini, menamatkan pendidikan dasar, SMP dan SMA-nya di Simeulue. Sarjana hukumnya di Universitas Syiah Kuala dan S-2 di Untag Semarang.

***
Pemilihan kepala daerah (pilkada) memang masih lama, lebih kurang masih satu setengah tahun lagi. Namun demikian, para calon di berbagai kabupaten di Aceh mulai memunculkan diri ikut menghiasi pilkada mendatang. Sedangkan Simeulue masih adem-adem saja, baru sebatas membincangkan siapa yang akan maju dan dipilih, meski pun sejumlah nama calon sudah ada di tangan, salah satunya Mohammad Nasrun Mikaris.

Banyak warga di sana menaruh harapan agar perwira polisi ini kelak menjadi pemimpin di kepulauan itu. Karena itu jua, sehingga lahirlah tulisan pojok mengajak AKBP Nasrun Mikaris pulang ke kampung kelahiran, Simeulue ini. Kapan bang Monas pulang?

Penulis: Juli Amin warga asal Simeulue di Banda Aceh

Lalu tajuk jawaban dari Monas (tayang 21 Agustus 2020) di portalsatu.com, namun tidak dapat di-googlelink (tidak dapat di-research lagi). Berikut petikannya:

Ucapan Bismillah dari MONAS untuk Simeulue Satu

SEKETIKA telepon genggam saya di atas meja warkop tempat saya sering ngopi pagi di Banda Aceh, berdering. Dari ujung telepon terdengar ucapan salam sembari bertanya, "Ati kabar, au posisi?" Pertanyaan berbahasa kampung saya Simeulue Barat yang artinya apa kabar, di mana posisi?

Pagi sekitar pukul 10.00 WIB hari itu, tepat 24 jam tayangnya sebuah tulisan pojok saya di media yang Anda baca ini, portalsatu.com berjudul: AKBP Nasrun Mikaris, Pulanglah! Tulisan mengajak pulang seorang perwira polisi yang kini menjabat sebagai Kepala BNNK Jakarta Selatan ke tanah kelahirannya Simeulue.

Semula saya sedikit hemat bicara, jangan - jangan telfon ini menyoal tulisan itu. Wajar jika saya berpikir demikian, sebab, beberapa jam setelah tulisan itu tayang, banyak yang menelepon dan menghubungi saya lewat whatsApp menyoal tulisan itu. Banyak yang pro dan tidak sedikit pula yang kontra. 

Apa yang saya pikirkan ternyata berbeda dengan kenyataan. "Na e yutu, andung, yu momutulis e; Ini saya Abang (Nasrun) orang/objek yang kamu tulis itu," jawabnya. Meskipun jantung masih dag, dig, dug, saya memberanikan diri bertanya soal kabar beliau. "Sehat walafiat," katanya. Jawaban itu membuat jantung kembali "lemas" (tidak kaku) sambil mengucap Alhamdulillah.

Spontan putra kelahiran Simeulue itu menegaskan, " Bismillah akhi e, menyahuti harapan masyarakat Simeulue man yu momutulis e, mudah-mudahan ladukung penuh masyarakat dan Allah mengabulkan; bismillah dik (panggilan beliau untuk saya) menyahuti masyarakat Simeulue, seperti yang anda tulis, mudah-mudahan mendapat dukungan penuh masyarakat dan Allah mengabulkan," kata Nasrun Mikaris. Kalimat ini mengisyaratkan AKBP Mohammad Nasrun Mikaris (MONAS) siap maju sebagai salah seorang bakal calon Simeulue satu pada Pilkada mendatang. "Alhamdulillah," jawab saya.

***
Jawaban yang ditunggu-tunggu itu membuat naluri jurnalis saya muncul. Pertanyaan demi pertanyaan pun mengemuka. Seperti bagaimana kesiapannya menghadapi pilkada nanti, pandangannya terhadap Simeulue hari ini dan programnya memoles Simeulue agar lebih "seksi" jika terpilih nantinya.

Nasrun Mikaris menjawabnya tegas; tim kerjanya sudah terbentuk sebagian, yang kurang akan ditambah lagi, yang belum pas akan diperbaiki. "InsyaAllah sudah dan sedang kita bentuk. Dukungan masyarakat adalah yang paling utama," jawabnya. "Soal pandangan dan program menyusul, sekarang saya harus jalan dulu, lagi ada sedikit kegiatan," tambahnya membuat saya penasaran.

Kesiapan seorang bakal calon baru, lumrah menjadi pertanyaan pembuka. Pasalnya, lawan "kuat" ada di depan  mata. Pengalaman pada pilkada-pilkada sebelumnya, di mana saja, orang nomor satu dan dua kerap kembali mencalonkan diri dengan sebutan incumbent  (inkamben). Sebagai bakal calon yang baru muncul, mau tidak mau harus memikirkan itu dengan memainkan transformasi politik jitu.

Apalagi, tersiar kabar, pada Pilkada Simeulue mendatang, bupati dan wakil akan sama-sama maju merebut kursi Simeulue satu. Tim kerja mereka sejak tahun 2019 lalu mulai bergerak door to door meyakinkan masyarakat setempat untuk memilih mereka.

Petahana, menurut saya, tentu lebih beruntung. Massa mereka sudah terbentuk. Basis wilayah pemilih sudah terpetakan. Kinerja mereka untuk Simeulue juga sudah terbukti dan dirasakan masyarakat.

Sebagai calon baru, AKBP Nasrun Mikaris harus lebih jeli dengan memainkan spirit politik berbeda, agar tidak terjebak sebagai calon pemecah massa (suara) pemilih dari pejabat yang tengah bersaing. Sebab, politik terkadang dapat mengecoh lawan. Ibarat sebuah pepatah minang: tembak lawik, kanai darek (tembak laut, kena darat); lain yang diinginkan lain pula yang terjadi.

Namun demikian, sebagai seorang perwira polisi di wilayah ibu kota yang selalu dekat dengan para "suhu politik", saya yakin, peta perpolitikan sudah tergambar apit, sehingga tidak canggung lagi ketika menyelam langsung dalam dunia politik itu sendiri. Bismillah....[]

Penulis: Juli Amin warga asal Simeulue di Banda Aceh

Dari dua tulisan empat tahun lalu yang saya tayangkan tersebut, sehingga kemenangan Monas-Nusar di Pilkada 2024 Kabupaten Simeulue tidak membuat saya heran apalagi kaget. Percayalah! Apabila Allah SWT berkehendak maka terjadilah.

Harapan saya, harapan kita semua semoga Monas-Nusar benar-benar membawa harapan baru untuk Kabupaten Simeulue lima tahun mendatang atau setelah dilantik pada Februari 2025 tahun depan. Harapan kami ada di tangan kalian berdua. Selamat dan laksanakan!

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...