Menikmati Panorama Malam Kutaraja dari Glee Gurah
Foto: Rianza/HabaAceh.id"Sampah bertaburan di puncak. Kesadaran pengunjung masih kurang, kalau bisa kelestarian kita jaga bersama, sampahnya tidak ditinggal begitu saja," sebut Acut.
Banda Aceh – Aceh tidak hanya dikenal dengan daerah wisata religius, sejarah, kuliner atau lautnya saja. Provinsi paling barat pulau Sumatera ini juga menyimpan berbagai destinasi wisata alam dengan suasana pegunungan yang bisa dinikmati.
Seperti halnya Glee Gurah, salah satu bukit yang terletak di kawasan Gampong Rima Jeuneh, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar ini menjadi salah satu spot wisata alam yang digemari kawula muda.
Kendati berada di kawasan Aceh Besar, saat berada di puncak bukit kita bisa menikmati jelas panorama kota Banda Aceh. Terlebih saat matahari mulai mulai berada di penghujung senja. Gelapnya malam dan kemilau cahaya lampu menjadi nuansa tersendiri yang bisa dinikmati dari puncak Glee Gurah.
Tak hanya itu, dari puncak bukit ini wisatawan juga bisa melihat berbagai pemandangan lainnya, seperti deretan perumahan warga, garis bibir pantai, gunung Seulawah Agam yang menjulang, bahkan lalu-lalang kendaraan yang melewati jalan lintas Barat Selatan, Aceh.
Berjarak hanya lebih kurang 5 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh, perjalanan menuju ke lokasi titik awal pendakian, di Gampong Rima Jeune, hanya memakan waktu sekitar 20 menit.
Saat sampai di lokasi, pengunjung dapat melihat pos atau warung kopi yang biasanya dijadikan sebagai tempat penitipan motor milik wisatawan menuju Glee Gurah.
Di pos itu, juga ditempel peraturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung, di antaranya tidak dibolehkan adanya pengunjung perempuan baik mahram maupun bukan mahram, kecuali sudah mendapat izin dari geuchik setempat.

Selain melalui Gampong Rima Jeune, akses menuju Glee Gurah juga bisa melalui gampong lainnya. Namun kebanyakan para pengunjung biasanya melalui desa Rima Jeuneu, karena dirasa lebih aman serta juga terdapat tempat penitipan motor.
Tidak perlu merogoh kocek terlalu mahal, biaya yang harus dikeluarkan untuk menikmati pemandangan di puncak Glee Gurah terbilang murah.
Wisatawan hanya cukup membayar biaya parkir motor sebesar Rp5.000 untuk satu malam pendakian. Selebihnya hanya pengeluaran untuk perlengkapan yang diperlukan, seperti konsumsi dan lainnya.
Memiliki ketinggian hanya sekitar 200 meter di atas permukaan laut (MDPL). Bagi pemula, puncak Glee Gurah dapat dicapai dengan melakukan pendakian selama 40 hingga satu jam lamanya. Jaraknya yang dekat, tak jarang membuat para pengunjung memilih mendaki saat malam hari.
Medan pendakian terjal dengan kontur batu karang dan rumput menjadi hal yang harus ditakluki pengunjung untuk mencapai puncak Glee Gurah. Tak hanya rerumputan, di sekitar jalur pendakian pengunjung juga dapat melihat berbagai jenis tumbuhan yang masih tampak alami.
Saat mendaki, pengunjung disarankan menggunakan sepatu biar lebih aman. Karena ketika turun hujan jalur pendakian yang awalnya berbatu seketika bisa menjadi berlumpur dan licin.
Selain itu, para pengunjung juga disarankan agar dapat membawa bekal dan air secukupnya dari titik awal mendaki, sebab di sepanjang pendakian menuju puncak tidak terdapat sumber mata air.
Setiba di puncak, pengunjung bisa memasang tenda di lahan datar, bahkan juga bisa mengikat hammock (ayun gantung) pada pohon untuk tempat bersantai yang lebih nyaman.
Suasana dingin dan embusan angin kencang sangat terasa saat berada di puncak. Kendati demikian, pengunjung tetap bisa menyalakan api unggun dan memasak makanan atau menyeduh kopi.
Para pendaki yang datang ke puncak Glee Gurah biasanya membawa perlengkapan tenda lengkap dan hanya memilih bermalam atau kamping di sana.
Di dataran puncak yang tak terlalu luas itu, aktivitas yang bisa dilakukan oleh para pengunjung ialah menyeduh kopi, menikmati gemerlap bintang, bermain musik serta berbincang banyak hal.
Karena berada di posisi ketinggian, saat memasuki waktu subuh sayup-sayup lantunan ngaji dan azan terdengar begitu kentara.
Salah seorang pengunjung, Acut, mengaku takjub dengan panorama yang disuguhkan dari puncak Glee Gurah. Menurutnya puncak ini sangat cocok dijadikan sebagai tempat healing penghilang penat di akhir pekan.
"Sudah sangat pas ini, sensasinya juga sangat memanjakan mata lah. Apa lagi kalau malam hari," kata Acut kepada HabaAceh.id.

"Malam dapat lihat pancaran lampu kota Banda Aceh. Paginya sambil ngopi-ngopi dapat bonus nikmati sunrise," ujarnya.
Acut menuturkan, walaupun Glee Gurah menawarkan sensasi pemandangan yang indah, di sisi lain Acut juga sangat menyayangkan sikap dan kesadaran dari para pendaki nakal yang mengunjungi tempat itu.
Di mana, sebagian dari mereka tidak membawa pulang sampah, melainkan meninggalkan begitu saja di lokasi.
"Sampah bertaburan di puncak. Kesadaran pengunjung masih kurang, kalau bisa kelestarian kita jaga bersama, sampahnya tidak ditinggal begitu saja," ujar Acut.










Komentar