Dilema Masyarakat Hilir Tamiang yang Kerap Dilanda Banjir

Dilema Masyarakat Hilir Tamiang yang Kerap Dilanda BanjirFoto: Zulfitra/HabaAceh.id
Kondisi salah satu Desa di Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang yang saat ini terendam banjir.

"Tidak terhitung lagi berapa kali kami kebanjiran setiap tahunnya. Kalau air sungai sudah mulai naik, pasti kebanjiran. Sebab tanggul itu sudah jebol, jadi air dengan mudah masuk kepemukiman," keluhnya.

Aceh Tamiang - Banjir merendam pemukiman warga di wilayah pesisir atau hilir Aceh Tamiang. Akibatnya, puluhan rumah masyarakat di Kecamatan Bendahara terendam air hingga ketinggian mencapai satu meter.

Banjir diduga karena meluapnya air sungai Tamiang pasca diguyur hujan deras yang berlangsung sejak tiga hari terakhir. Serta diakibatkan jembolnya tanggul sungai di beberapa titik di Kecamatan Bendahara.

Datok Penghulu (Kades) Kampung Rantau Pakam, Kecamatan Bendahara, Ruslan mengatakan, saat ini banjir telah merendam puluhan rumah warganya termasuk rumah miliknya.

"Hampir di seluruh wilayah Kampung Rantau Pakam saat ini terendam. Bahkan, ketinggian air sudah ada yang mencapai satu meter," kata Ruslan pada HabaAceh.id, Kamis (16/12)

Tak hanya desanya, Ruslan mengaku, saat ini banjir juga telah merendam rumah warga di beberapa desa dalam Kecamatan Bendahara seperti Kampung Balai.

"Banjir sudah terjadi sejak kemarin. Namun, puncaknya mulai terjadi pada Kamis (15/12) tepatnya saat menjelang subuh," ujarnya. 

Kendati demikian, Ruslan tidak menyebutkan secara rinci jumlah total rumah warganya yang saat ini terendam banjir. Namun, diperkirakan mencapai sekitar 30 rumah.

"Puluhan lebih,  belum ada yang mengungsi. Mereka masih memilih bertahan di rumah masing-masing," ucapnya.

Ruslan mengungkapkan, saat ini kondisi tanggul sungai di desanya sangat memprihatinkan. Bahkan, terdapat satu titik tanggul yang jebol tersebut sudah mengalami kerusakan sejak bertahun-tahun.

Sehingga, sebutnya, Desa Rantau Pakam menjadi salah satu desa di Kecamatan Bendahara yang harus menerima dampak banjir setiap tahunnya ketika memasuki musim penghujan.

"Tidak terhitung lagi berapa kali kami kebanjiran setiap tahunnya. Kalau air sungai sudah mulai naik, pasti kebanjiran. Sebab tanggul itu sudah jebol, jadi air dengan mudah masuk kepemukiman," keluhnya. 

Ruslan menjelaskan, upaya perbaikan tanggul sungai telah dilakukan secara swadaya dengan cara menutup lubang menggunakan material tanah yang dimasukkan ke dalam karung. Namun, hal itu tidak dapat bertahan lama karena derasnya air yang menghantam tanggul saat debit air sungai tinggi .

"Membuat tanggul itu kembali jebol. Akibatnya, limpahan air dari sungai tersebut masuk dan merendam pemukiman warga setempat," tuturnya. 

Ruslan meminta Pemerintah Provinsi agar secepatnya membangun dan memperbaiki tanggul sungai di desanya,  dan juga beberapa tanggul di desa lainnya di wilayah hilir Aceh Tamiang. Sehingga, masyarakat terlepas dari musibah banjir yang kerap menghantui mereka setiap tahunnya.

"Akibat dari musibah tersebut kerugian dialami warga tidak hanya moril tapi  juga materil. Karena tidak hanya rumah, banjir juga menghancurkan lahan pertanian dan perkebunan. Tidak sedikit pula warga yang mengalami gagal panen akibat banjir," sebutnya.

Editor:

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...