Banjir Aceh Tamiang Belum Surut, 150 Rumah Warga Terendam Akibat Tanggul Jebol
Foto: Dede Harison/HabaAceh.idKarang Baru – Ratusan rumah warga hingga kink masih terendam banjir luapan akibat tanggul jebol di Desa Gelung, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang.
Datok Penghulu (Kepala Desa) Gelung, Zul Azwairsyah mengatakan, tanggul yang jebol di desanya itu berada di satu titik dengan lebar sekitar 4-5 meter.
Lokasi tanggul pecah tersebut hanya berjarak beberapa meter dari permukiman warga, sehingga dampak banjir cukup luas dan parah.
“Tanggul jebol satu titik kini lebarnya sudah bertambah sekitar 6 meter, sedangkan satu titik lagi tanggul tenggelam oleh luapan sungai, jadi air sungai masuk dari dua lokasi,” kata Zul saat dihubungi HabaAceh.id, Sabtu (30/12) sore.
Dia menjelaskan, Desa Gelung kembali terendam banjir setelah sebelumnya air sempat surut dua hari lalu. Aktivitas warga kini nyaris lumpuh akibat terisolir banjir.
“Hari ini sudah bertambah airnya sekitar 20 centimeter, karena ada bajir kiriman dari hulu masuk terus dari tanggul jebol itu,” ujarnya.
Zul berharap, agar tanggul jebol di desanya segera diperbaiki secara permanen. Dinas Pengairan Aceh diminta memprioritaskan pembenahan DAS Aceh Tamiang agar kampung mereka bisa terbebas dari banjir setiap tahun.
“Harapannya supaya diperbaiki, dan kalau bisa kita buat batu beton,” ucapnya.
Satu Kampung Kebanjiran
Sementara Kaur Umum dan Perencanaan Desa Gelung, Adiray (35) menyebutkan, banjir sudah bertahan selama enam hari bahkan kondisinya makin bertambah parah. Akses keluar - masuk warga ke Desa Gelung terpaksa harus dilangsir dengan becak viar kecuali mobil truk.
Pasalnya akses jalan yang terendam banjir panjangnya mencapai 1,2 kilometer dengan kedalaman 50 cm hingga 1,5 meter.
“Banjir di jalan cukup dalam sebetir hingga sepaha orang dewasa. Kalau kita naik sepeda motor harus ditinggal, orangnya diangkut naik becak dan jetor sawah,” ujarnya.
Mirisnya lagi, sambung Adiray, banjir juga merendam seluruh rumah penduduk yang berada di empat dusun. Pihak desa sudah mendirikan tenda pengungsian di tujuh titik, namun sebagian besar warga masih memilih bertahan di rumah.
“Rumah yang terendam seluruhnya sebanyak 150 unit, yang dihuni oleh sekitar 210 kepala keluarga/KK. Artinya ya, satu kampung kami kebanjiran,” terang perangkat desa muda itu.
Adiray memprediksi, banjir akan terus bertahan sebelum tanggul jebol tersebut ditutup. Dia juga mengeluhkan belum adanya pejabat pemerintah daerah yang datang ke lokasi terdampak banjir.
“Hanya Pak Dandim kemarin yang sudah datang kemari, kalau dari Pemda belum ada sama sekali kirim bantuan apalagi perbaikan tanggul,” pungkasnya.
Laporan: Dede Harison










Komentar