Air Sumur Berminyak dan Bau, Warga Naga Umbang dalam Pusaran Krisis Air Bersih

Air Sumur Berminyak dan Bau, Warga Naga Umbang dalam Pusaran Krisis Air BersihFoto: Julinar Nora Novianti/HabaAceh.id
Sumur amblas diduga akibat kegiatan pabrik yang sering melakukan blasting, Selasa (4/6).

Banda Aceh - Sudah hampir sepuluh tahun Desa Naga Umbang, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, kesulitan mendapatkan air bersih. Krisis tersebut diperparah dengan kemarau ekstrem yang melanda wilayah Aceh di tahun 2022 lalu. 

Masyarakat mulai menerka-nerka, apakah ketidaktersediaan air bersih itu disebabkan oleh penambangan batu gamping untuk perusahaan semen yang berada di kampung mereka atau akibat perubahan iklim semata.

Selama ini, masyarakat Desa Naga Umbang hanya mengandalkan sumur pribadi untuk kebutuhan sehari-hari. Pasalnya air PDAM yang mengaliri rumah-rumah warga ternyata juga tidak bisa diandalkan. Mati-hidup, bahkan sama sekali tidak hidup, terlebih di musim kemarau ini. Sementara mereka butuh air untuk sekadar bersuci dan mandi.

“Bukan krisis air yang sama sekali tidak ada air. Ada beberapa rumah yang airnya tidak layak dipakai. Kuning, berminyak dan bau karat,” kata Ayu (26), warga Desa Naga Umbang saat ditemui, Selasa (4/6) lalu.

Saat musim politik, warga bersyukur karena ada uluran tangan dari calon anggota dewan maupun calon bupati yang memasok satu tangki air bersih gratis dan bisa diambil dua kali dalam seminggu. Masyarakat sedikit terbantu dengan hal itu. 

“Sebenarnya sudah ada solusi dan upaya dari mereka (pemerintah dan pihak perusahaan) untuk membantu, sudah ada air PDAM, tapi kemarau begini air juga tidak ada. Kalaupun musim hujan, air cuma mengalir dua kali saja dalam sehari, itu tetap tidak cukup,” kata Ayu.

Masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari bersawah juga terpaksa harus mengalihfungsikan areal persawahan yang telah mengering agar tetap menghasilkan. Mereka mulai menanam tanaman pangan seperti jagung dan kacang usai mengalami gagal panen tahun 2022 lalu. 

“Kalau tahun depan ada hujan, kita balik tanam padi lagi,” ujar Ayu.

Ayu tidak tahu pasti mengapa desanya mulai kesulitan mendapatkan air bersih, padahal wilayah mereka dekat dengan mata air Pucok Krueng. Hanya saja desanya belum memiliki alat yang bisa mengaliri air dari sumbernya itu.

“Ada juga janji-janji katanya akan membuat kincir air untuk mengalirkan air ke Naga Umbang, tapi sampai sekarang belum jalan,” tuturnya.

Ayu termasuk salah satu dari 125 KK yang beruntung lantaran sumurnya belum pernah kering sejak krisis air melanda desanya tahun 2017 silam. Sementara di sana, ada warga lain yang harus rela mengantre demi air bersih sumbangan calon bupati. 

Kegelisahan dan Ancaman Kesehatan

Setiap kali mobil tangki air masuk ke dayah yang berada di Naga Umbang, Fitri (29) dan beberapa warga lain harus siap-siap mengangkut jeriken berisi air bersih ke rumah masing-masing. Saat ini, air tersebut bisa diambil gratis, masyarakat hanya perlu menyediakan jeriken untuk menyalin air dari tangki.

“Rata-rata di sini kesulitan air, kalau ada pun hanya cukup untuk diri sendiri tidak bisa membantu mengaliri ke tetangga,” kata Fitri.

Sebenarnya, dia telah berulang kali diingatkan dokter untuk mandi minimal dua hari sekali terlebih selama musim panas ini. Fitri yang saat ini tengah mengandung anak pertamanya kerap kali memproduksi keringat berlebih. Namun sayangnya, keterbatasan air tak bisa membuatnya sering-sering membersihkan diri, padahal biang keringat sudah muncul di tengkuk dan lengannya.

“Mau mandi cukup-cukupin airnya, paling bisa sehari sekali, kami mandi sore aja. Kalau baju terpaksa dibawa ke laundry," ujarnya.

Anak-anak Naga Umbang, kata Fitri, rata-rata juga mengalami gatal-gatal akibat cuaca panas, ditambah lagi krisis air yang sedang terjadi. 

“Kalau ke rumah sakit, dokter bilang ini karena air. Cuma mau gimana lagi kita kekurangan air,” tuturnya.

Permasalahan air pun juga dirasakan oleh Suarni (39). Ibu rumah tangga itu harus mengecor sumurnya lantaran mengering setelah adanya pembangunan jalan. Untungnya, di depan rumah Suarni terdapt lahan kosong yang memiliki sumur bekas dengan air masih tergolong layak digunakan untuk sekadar mencuci atau mandi. Di lahan kosong itu pula, Suarni memasang mesin air untuk dialiri ke rumahnya. 

Meski saat ini dia bebas menggunakan sumur bekas itu, bukan berarti tidak ada kekhawatiran dalam dirinya. Dia takut jika sewaktu-waktu, lahan itu akan dibangun rumah, sementara dirinya hanya menggantungkan air dari sana. 

“Kalau di sumur itu airnya bersih, tidak berbau juga, tapi kalau orang yang punya lahan buat rumah di situ, kami entah gimana. Air PDAM juga hidup susah di sini,” kata Suarni.

Suarni (39) memperlihatkan sumur dari lahan kosong yang kini dimanfaatkannya setelah sumur miliknya kering usai pembangunan jalan, Selasa (4/6). Foto: Julinar Nora Novianti/HabaAceh.id

 

Kemarau Panjang dan Dugaan Pengrusakan Lingkungan Akibat Tambang

Hal tersebut juga disampaikan Yeni Hartini, warga Desa Naga Umbang, Kecamatan Lhoknga, yang saat ini dipercaya sebagai Koordinator Program Solidaritas Perempuan Bungong Jeumpa Aceh. Dia menduga, permasalahan air sumur di desanya terjadi sejak proses eksploitasi tambang oleh pabrik semen PT Solusi Bangun Andalas yang membuat air sumur keruh, bau dan kering.

Parahnya lagi, aktivitas tambang tidak hanya berdampak pada kekeringan, tetapi juga membuat amblas diduga akibat kegiatan pabrik yang sering melakukan blasting. Menurutnya, kekeringan itu berkaitan dengan eksploitasi tambang, ditambah lagi perubahan iklim yang sedang terjadi. 

“Meskipun rilis dari Dinas ESDM menyatakan tidak ada hubungan saluran air Naga Umbang dengan perusahaan, tapi masyarakat lokal sendiri yang melakukan pengamatan, perubahan sampai terjadi krisis air itu karena faktor pertambangan yang merusak kawasan karst,” kata Yeni.

Selain itu, Yeni mengatakan, kekeringan juga berdampak pada ekonomi masyarakat. Warga Naga Umbang yang mayoritas mengais rezeki dari tanaman padi harus merasakan gagal panen akibat kemarau. Warga yang biasanya mengandalkan lahan persawahan untuk sekadar makan, kini bahkan harus membeli beras. 

“Belum lagi saat ini harga sembako melambung tinggi, tetapi upaya pemerintah untuk jaminan di sektor petani tidak ada,” tuturnya.

Yeni bersama masyarakat lainnya sudah pernah meminta pertanggungjawaban PT SBA dan mengadvokasi ke pemerintah Kabupaten Aceh Besar terkait hal tersebut. Namun, hal ini belum menjawab kebutuhan air jangka panjang. 

“Mereka juga bukan bergerak untuk membantu warga menangani krisis air, tapi sibuk untuk pemenuhan air bagi perusahaan (yang) juga mengalami krisis air untuk produksi,” katanya.

Diwawancarai secara terpisah, pada Kamis (6/6), Head of Media PT SBA Faraby Azwany, hanya menyampaikan jika hal tersebut telah dijelaskan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh. 

“Hal ini sudah dijelaskan oleh Pak Kadis ESDM, berikut saya kirimkan penjelasannya ya,” kata Faraby menjawab HabaAceh.id melalui pesan tertulis.

Berdasarkan rilis yang pernah dikeluarkan oleh Kepala Dinas ESDM Aceh, Mahdinur menyebutkan faktor utama penyebab kekeringan melanda Kecamatan Lhoknga adalah kemarau yang berkepanjangan. Itu juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. 

Data curah hujan dari stasiun BMKG Lhoknga juga menunjukkan hampir setiap tahun terdapat curah hujan yang rendah, bahkan di bawah normal. 

“Ini memang menjadi penyebab utama terjadinya kekeringan pada beberapa sumber air di daerah karst Kecamatan Lhoknga,” kata Mahdinur dalam keterangan tertulis.

Mahdinur menyebutkan dari kajian hidrologis yang dilakukan, diketahui bahwa zona resapan aliran Pucok Krueng berbeda dengan zona resapan lokasi PT Solusi Bangun Andalas (SBA) yang arah aliran air tanahnya menuju ke Barat atau menuju laut.

Foto: Terdapat lima daerah resapan atau daerah tangkapan air (DTA) di sekitar Pucok Krueng. DTA Pucok Krueng mengalir ke arah Lembah Linto menghubungkan Gue Uleu dan Pucok Krueng di bagian utara, sedangkan DTA Kuari Gamping PT Solusi Bangun Andalas mengalir ke arah Barat (Penelitian BGR, Jerman 2007 dan UGM , 2021). Sumber: PT SBA

 

“Berdasarkan kajian ini tidak dapat dibuktikan bahwa isu aktivitas penambangan berkaitan dengan kekeringan beberapa sumber air disekitar wilayah tersebut,” katanya.

Sementara itu General Manager SBA, Mochamad Anwar Bakti, mengatakan jika saat ini sumber air baku untuk pabrik hanya menggunakan air limpasan hujan yang tertampung pada kolam settling pond di area kuari batu gamping. 

“Namun kondisinya saat ini telah surut drastis dan hampir kering karena dampak kemarau berkepanjangan,” kata Anwar.

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...