Terdampar di Perairan Aceh Singkil, Bayi Dugong Dilepasliarkan
Banda Aceh - Seekor bayi duyung (Dugong dugon) berumur sekitar 2-3 tahun terdampar di perairan Pulau Panjang, depan Bumdes Pulau Baguk, Kecamatan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil dilepasliarkan ke laut.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Gunawan Alza melalui Kepala Resor TWA Kepulauan Banyak, Riya Kamba, mengatakan relokasi atau pelepasliaran bayi dugong ke habitat alaminya dilakukan pada Sabtu (6/1) lalu.
Riya menjelaskan, bayi dugong terlihat tanpa induk dan dalam kondisi lemah di sekitar perairan Pulau Panjang akhir Desember 2023 lalu. Satwa itupun ditemukan dalam kondisi terluka pada bagian ekor dan luka lecet lainnya di beberapa sisi tubuh.
Merespon hal tersebut, kata Riya, BKSDA bekerjasama dengan pihak terkait dan masyarakat melakukan penanganan terhadap bayi duyung yang terdampar sejak akhir tahun lalu. Tim medis Dokter hewan dari BKSDA dan Yayasan Fifan Archipelago juga diturunkan guna penanganan medis dan upaya penyelamatan lebih lanjut.
“Berdasarkan identifikasi oleh tim medis, diperkirakan bayi duyung tersebut berumur 2-3 tahun berjenis kelamin jantan dengan bobot 20 kilogram,” kata Riya, Selasa (16/1).
Tim dokter hewan juga memberikan dukungan perawatan terhadap satwa lindung tersebut dengan meningkatkan kondisi kesehatannya.
Riya mengatakan pelepasliaran terhadap bayi dugong dilakukan setelah satwa tersebut menunjukkan progress yang baik. Kemudian, survei lokasi kekayaan habitat juga digiatkan. Lokasi itu dipilih setelah memenuhi kriteria seperti jauh dari aktivitas manusia, terdapat pakan alami, dan memberikan akses bagi bayi duyung untuk bertemu induknya atau terdapat keberadaan satwa duyung lainnya.
“Tim juga memberikan dukungan proses pelepasliaran agar insting satwa tetap terjaga. Dan di lokasi ini juga ditemukan kemunculan induk dugong atau populasi dugong lainnya,” ujar Riya.
Setelah pelepasliaran, pihaknya melakukan observasi pasca relokasi. Satwa tersebut terlihat aktif mengeksplor area, mengakses makanan dan bergerak aktif.
Bayi dugong itu terus bergerak aktif dalam area padang lamun dan area lain di sekitar satwa, yang merupakan salah satu wilayah jelajah dan predileksi/endemik populasi habitat dugong di perairan laut Pulau Banyak.
“Di Indonesia dalam penanganan bayi dugong ini hampir 50 persen yang mampu bertahan hidup dan kembali ke habitat aslinya dan bertemu dengan induknya,” pungkasnya.







Komentar