Penderita HIV/AIDS di Banda Aceh Capai 441 Kasus, Sebagian Bukan Warga Lokal

Penderita HIV/AIDS di Banda Aceh Capai 441 Kasus, Sebagian Bukan Warga LokalFoto: Canva/HabaAceh.id
Ilustrasi

Banda Aceh — Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banda Aceh, Supriyadi, menyebutkan, dari tahun 2008 hingga Mei 2024 penderita HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) mencapai 441 kasus.

"336 kasus untuk HIV dan AIDS mencapai 105 kasus, totalnya 441 Kasus. HIV/AIDS ini merupakan kondisi yang serius dan berpotensi mematikan," kata Supriyadi, kepada HabaAceh.id, Selasa (11/6).

Supriyadi menjelaskan, HIV adalah virus yang dapat menyebabkan AIDS, sedangkan AIDS merupakan tahap lanjutan dari kondisi individu terinfeksi HIV. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, merusak sel-sel penting untuk melawan infeksi dan penyakit.

"Masalah HIV/AIDS pada remaja merupakan isu yang penting karena remaja rentan terhadap penularan virus ini," ujarnya.

Ia mengungkapkan, ada empat jenis populasi yang berisiko tertular virus HIV yaitu, LSL (laki-laki sex laki), waria, wanita/pria pekerja sex, dan pengguna narkoba suntik. 

Untuk HIV di Banda Aceh, kata Supriyadi, dipicu seiring dengan meningkatnya populasi kunci laki-laki seks dengan laki-laki. Di mana, sebagian besar dari perilaku seksual yang berisiko laki-laki seks dengan laki-laki positif HIV.

Selain itu, meningkatnya kasus HIV/AIDS di Banda Aceh juga dipengaruhi oleh media sosial yang menampilkan laki-laki berpakaian perempuan sudah dianggap wajar walaupun hanya untuk sekedar konten. Hal itu berpengaruh kepada anak-anak remaja untuk ditiru demi mendapatkan follower.

"Dan ini sangat berisiko pada pertumbuhan dan perkembangan psikologis anak yang akan berpersepsi bahwa laki-laki meniru perempuan adalah hal wajar, awalnya hanya coba-coba, kemudian akan ikut pada komunitas populasi kunci yang beresiko seperti LSL," jelasnya.

Supriyadi menuturkan, upaya penanggulangan kasus HIV/AIDS di Banda Aceh pihaknya melakukan beberapa langkah penanganan seperti melakukan penyuluhan dan pemeriksaan pada remaja sekolah atau mahasiswa.

"Dan juga melakukan pemetaan dan pendekatan pada komunitas populasi kunci yang ada di Kota Banda Aceh," pungkasnya.

Ia menambahkan, 441 kasus penderita HIV/AIDS tersebut bukan semuanya warga lokal, melainkan ada sebagian warga dari daerah lain yang berdomisili di Banda Aceh.

"Sebagian luar kota Banda Aceh tapi berdomisili dan bersosialisasi interaksinya di Banda Aceh, termasuk juga mengakses layanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang ada di Kota Banda Aceh," pungkasnya.

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...