Gen Z Dinilai Rentan Depresi dan Bunuh Diri

Gen Z Dinilai Rentan Depresi dan Bunuh DiriFoto: Julinar Nora/HabaAceh.id
Psikiater Jiwa Anak dan Remaja, Subhan Rio Pamungkas.

Banda Aceh - Generasi Z (Gen Z) digadang-gadang bakal memimpin Indonesia Emas tahun 2045 mendatang. Namun, anak muda kelahiran 1997 hingga 2012 itu dinilai rentan mengalami depresi hingga bunuh diri.

Psikiater Jiwa Anak dan Remaja, Subhan Rio Pamungkas menjelaskan, gangguan mental emosional kerap terjadi pada usia remaja, dimana secara hormonal usia 12-21 tahun terjadinya fase perpindahan dari anak-anak menuju dewasa.

“Dari sisi psikologi remaja itu berada di fase mencari identitas diri dan peran ke depannya. Kalau dari sisi sosial tuntutan dari masyarakat juga semakin banyak, hal tersebut yang menjadi tekanan pada remaja,” kata Subhan Rio kala mengisi seminar kesehatan deteksi dini risiko bunuh diri yang dihadiri ratusan siswa SMA dan Mahasiswa di Banda Aceh, Sabtu (13/1).

Permasalahan mental, tambah Rio, dapat dipengaruhi oleh faktor genetika. Dimana gangguan mental secara garis keturunan dapat menjadi pemicu anak untuk mengalami hal serupa. Namun, jelas Rio, hal tersebut dapat dicegah sedini mungkin dengan pertahanan diri yang baik.

"Jika ada riwayat orang tua dengan gangguan jiwa, dan jika anaknya punya tekanan itu bakal lebih mudah terganggu dibandingkan dengan yang tidak memiliki riwayat mental. Tapi itu hanya faktor saja tidak pasti,” ujarnya.

Kemudian, pemicu lainnya generasi muda saat ini banyak yang mengalami kendala dalam hubungannya interpersonal. Sehingga kendala itu membuat seseorang mudah tertekan dan lebih jauh dapat mengakibatkan bunuh diri.

Rio mengatakan, deteksi permasalahan bagi remaja yang memiliki gangguan dengan kesehatan mental, secara sederhana dapat lihat dari nilai akademik.

Meskipun demikian, usia rentan itu tidak hanya terjadi pada remaja, tapi juga oleh lansia. Lansia dianggap rentan karena secara hormonal fungsi tubuh mereka sudah menurun.

“Lansia juga rentan karena terjadinya perubahan secara hormonal turun. Secara psikologis mereka sudah masuk ke tahapan introspeksi diri dari perjalanan hidup, jika tidak tercapai itu jadi beban,” ujarnya.

Deteksi seseorang mengalami gangguan kesehatan mental dapat terlihat dengan perilaku emosi yang tidak terkontrol dalam kurun waktu satu minggu. Rio mengatakan perilaku tersebut menjadi tanda jika seseorang butuh pertolongan.

“Kalau menemukan ada orang yang berindikasi bunuh diri, cobalah menemaninya. Kemudian coba berkomunikasi, ajak bicara. Jika dirasa tidak ada perubahan, bawalah ke profesional,” pungkasnya. 

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...