Disebut Usir Pansus DPRK, Kepala TU RSUTP Abdya Beri Pembelaan

Disebut Usir Pansus DPRK, Kepala TU RSUTP Abdya Beri PembelaanFoto: Dok.Bithe.co/Wahyu Andika

"Ini perlu saya luruskan, seingat saya tidak ada kata-kata mengusir seperti yang sampaikan Pak Zulkarnain ke media. Apalagi, yang datang bapak-bapak dewan yang terhormat, sangat tidak etis saya mengusir mereka,” ujarnya.

Aceh Barat Daya - Kepala Tata Usaha (TU) Rumah Sakit Umum Teuku Peukan (RSUTP) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengaku tidak keberatan jika dirinya dievaluasi oleh Pj bupati atas permintaan Tim Pansus DPRK setempat.

"Jabatan yang saya emban ini merupakan amanah dan kepercayaan dari pimpinan terhadap bawahan jika suatu saat di evaluasi tentu bagi saya itu hal yang wajar sebagai abdi negara," kata Kepala TU RSUTP Abdya, Raudhatinur kepada HabaAceh.id, Selasa (20/12) malam.

Raudhatinur juga membantah keras terhadap pernyataan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Abdya dari Fraksi Abdya Sejahtera (FAS) yang menyebutkan dirinya mengusir Tim Pansus.

"Ini perlu saya luruskan, seingat saya tidak ada kata-kata mengusir seperti yang sampaikan pak Zulkarnain (anggota DPRK Abdya--red) ke media. Apalagi, yang datang bapak-bapak dewan yang terhormat, sangat tidak etis saya mengusir mereka,” ujarnya.

Dia menjelaskan, ketika anggota DPRK datang Pansus ke RSUTP, saat itu dirinya sedang berada di ruang keuangan.

Kebetulan, kata Raudha, dirinya sedang memberikan arahan kepada staf di keuangan, segera membuat laporan, dan pembayaran jasa serta melakukan klaim BPJS, mengingat sudah menjelang masa tutup anggaran 2022.

“Tiba-tiba, pak Dewan sampai di RSUTP. Melihat pak Zulkarnain dan pak Dewan lainnya sampai, saya langsung menyapa mereka, jadi tak ada kata-kata mengusir, yang ada mereka mengusir saya,” tegasnya.

Raudha juga menyangkal jika dikatakan pihaknya tidak menyerahkan dokumen kepada tim pansus.

"Padahal, seluruh dokumen yang diminta tetap diberikan dan dokumen itu langsung diserahkan oleh stafnya ke DPRK. Bahkan, saya berpesan kepada staf saya untuk menjawab seluruhnya kepada anggota DPRK, dan tidak perlu ditutup-tutupi," katanya.

Raudha mengaku bahwa dirinya sempat dicecar dengan kata-kata kasar oleh politisi PKB itu saat pembahasan di gedung DPRK.

“Saya tidak tau, saya salah apa dengan pak Zulkarnain, karena ini bukan yang pertama kalinya. Saat pembahasan, beliau juga pernah mengeluarkan kata-kata kasar, saya dibilang oon, bodoh, tolol. Karena, dalam forum, kami diam saja, tak mau membalas,” demikiannya.

Editor:

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...