Belum Ada Bukti Autentik Tentang Laksamana Malahayati, Mengapa UNESCO Tetapkan Hari Lahir?
Foto: AI (Artificial Intelligence)Banda Aceh - Direktur Jenderal United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) baru saja menetapkan hari lahir Laksamana Malahayati pada 1 Januari 1550 Masehi. Hari kelahiran tersebut juga disebut sebagai hari perayaan internasional.
Namun, siapa sebenarnya Laksamana Malahayati yang dimaksud?
Berbagai literatur terkait sejarah Aceh masa lalu belum ditemukan secara jelas tokoh perempuan laksamana yang disebut memimpin armada laut Sultan Alaudin Riayat Syah Al Mukammil. Namun, diduga nama rekaan Malahayati itu muncul dari kaum orientalis seperti De Graff dan Snouck Hougranje yang kemudian menjadi bahan rujukan sejarawan masa kini dalam menulis kisah perang di masa Portugis menyambangi Nusantara.
Mantan Gubernur Aceh Prof Ali Hasjmy semasa memerintah juga mencoba melacak seorang tokoh perempuan yang kemudian disebut Malahayati. Dari hasil penelusurannya kemudian disimpulkan bahwa kompleks makam kuno yang ada di Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar merupakan pusara sang laksamana tersebut.
Dari literatur yang ditulis kalangan sejarawan masa kini, disebut bahwa Laksamana Malahayati merupakan anak Laksamana Mahmudsyah anak Laksamana Muhammad Said Syah putra Salahuddin Syah anak Sultan Ibrahim Mughayat Syah. Nasab Malahayati yang dimaksud seperti ditulis Mujibburrahman dkk dalam buku Aceh Bumi Srikandi terbitan Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2008.
Laksamana Malahayati yang dimaksud juga disebut pernah menimba ilmu militer di Baital Maqdis, memimpin pasukan Inong Balee, dan menjadi sosok perempuan yang membunuh Cornelis dan menawan Frederick de Houtman di kapal van Leeuw. Kesimpulan tersebut ditulis para sejarawan merujuk catatan John Davis, seorang berkebangsawanan Inggris yang menjadi nahkoda kapal Belanda.
Peristiwa itu dicatat terjadi pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah Al Mukammil memerintah.
Namun, berdasarkan beberapa sumber pegiat sejarah Aceh menyebutkan, John Davis tidak menyebutkan nama Malahayati dalam catatan perjalanannya tersebut. Dia hanya menulis seorang perempuan yang membunuh salah satu pemimpin armada kongsi dagang dari Belanda, setelah menyinggung Sultan Alauddin Riayat Syah Al Mukammil. Insiden itu kemudian membuat Prince Maurits selaku pemimpin Dinasti Orange Belanda mengirim utusan dan meminta maaf kepada Sultan Aceh. (Baca: Desember dalam Catatan Panjang Sejarah Aceh)
Selain itu, kompleks makam yang dipercaya dan ditetapkan sebagai pusara Laksamana Malahayati--yang ada di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, juga tidak memuat epitaf. Padahal, dari penelusuran setiap nisan milik seorang bangsawan apalagi seorang pahlawan perang di Aceh kerap ditemukan memuat epitaf angka tahun, nama dan sejarah singkat pemilik makam.
Hal inilah yang membuat Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), Mizuar, meragukan sosok Malahayati yang sering dicatat dalam buku sejarah populer adalah tokoh nyata dalam sejarah Aceh. "Dari bentuk nisan yang dikhayalkan sebagai makam Laksamana Keumala Hayati serta suaminya, meninggal awal abad 17 Masehi. Keduanya tanpa epitaf, hanya kalimat tauhid," tulis Mizuar menjawab pertanyaan benarkah tahun lahir Malahayati 1 Januari 1550 seperti ditetapkan UNESCO.
Jika merujuk tahun tersebut, Mizuar kemudian menyebut usia Malahayati baru sembilan tahun ketika suaminya meninggal. Dia juga mempertanyakan kapan keduanya kemudian bertemu di Ma'had Asykeri Bitai atau Baital Maqdis.
Dia menilai aneh dengan kemunculan nama Laksamana Malahayati dalam sejarah Aceh. Apalagi ada para pihak yang kemudian mengklaim sebagai keturunan Malahayati sehingga mendapat penghargaan saat Indonesia menganugerahkan gelar pahlawan pada nama tersebut.
"Hingga saat ini belum ditemukan bukti autentik tentang tokoh Laksamana Malahayati. Saat ini yang ditemukan makam seorang laksamana wanita, tapi bukan atas nama Malahayati. Model nisan penghujung abad 16 hingga awal abad 17 Masehi," ungkap Mizuar Mahdi kepada HabaAceh.id, Senin (1/1/2024).
Nisan yang dimaksud Mizuar tersebut ditemukan di Kompleks Makam Meurah II yang ada di Ulee Lueng, Aceh Besar. Di nisan tersebut, terdapat epitaf dalam bahasa Arab Jawi yang ditulis, "Bahwasanya inilah nisan kubur yang mulia bernama Meurah (Mirah) Meukuta bergelar orangkaya kapai laksamana saudara orangkaya-kaya Sri Maha Raja dari bangsa Moro."
Kubur yang ditandai dengan batu nisan--yang lazim digunakan untuk wanita--tersebut telah membuka petunjuk baru tentang catatan seorang bergelar orang kaya kapal berpangkat laksamana.
"Tidak ada tarikh wafat yang ditemukan pada kedua batu nisan kubur orangkaya kapal ini, tapi kubur-kubur di kompleks pemakaman tersebut, secara umum, bertarikh wafat antara penghujung abad ke-10 Hijriah (abad ke-16 M) dan permulaan abad ke-11 Hijriah (abad ke-17 M)," tulis peneliti sejarah Islam Asia Tenggara, Taqiyuddin Muhammad, Lc, yang disampaikan Mizuar kepada HabaAceh.id.
Jika sosok Laksamana Malahayati saja masih diragukan, lantas bagaimana UNESCO dengan tegas menetapkan hari lahirnya jatuh pada 1 Januari 1550 Masehi?








Komentar