Aceh Alami Inflasi 0,48 Persen pada Maret 2024
Banda Aceh — Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat angka inflasi Tanah Rencong pada bulan Maret 2024 mencapai 0,48 persen. Angka tersebut dihitung berdasarkan hasil pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di lima kabupaten/kota yakni Aceh Tengah, Meulaboh, Aceh Tamiang, Banda Aceh, dan Lhokseumawe
“Pada Maret 2024 Aceh terjadi inflasi sebesar 0,48 persen secara month to month (m-to-m),” kata Kepala BPS Aceh, Ahmadriswan Nasution, dalam konferensi pers virtual, Senin (1/4).
Ahmadriswan menyebutkan untuk angka inflasi m-to-m secara nasional yakni sebesar 0,52 persen, di mana angka tersebut masih tinggi dibandingkan angka inflasi Aceh.
“Artinya, inflasi Aceh sedikit lebih rendah bila dibandingkan dalam periode yang sama terhadap inflasi nasional,” ujarnya.
Adapun beberapa komoditas yang memiliki andil dominan terhadap inflasi Aceh secara m-to-m yakni cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras, bawang merah, kentang, emas perhiasan, sigaret kretek mesin (skm), cumi-cumi, udang basah, dan cabai rawit.
Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi m-to-m yakni ada tomat, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, kangkung, beras, ikan tuna, ikan kembung/ikan gembung/ ikan banyar/ikan gembolo/ikan aso-aso, baju muslim wanita, daun singkong, semen, dan kemeja panjang katun pria.
Sementara, kata Ahmadriswan, jika dilihat secara year on year (y-on-y), inflasi Aceh pada Maret 2024 yakni sebesar 3,25 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,63.
“Inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya hampir seluruh indeks harga kelompok pengeluaran,” ujarnya.
Ia menyebut, secara y-to-y inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah yakni sebesar 4,51 persen dengan IHK sebesar 108,52 dan terendah terjadi di Kota Banda Aceh sebesar 2,52 persen dengan IHK sebesar 105,58.
Menurut Ahmadriswan, dari 11 kelompok pengeluaran yang dipantau pada Maret 2024, tercatat sembilan kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi di Aceh dan dua kelompok memberikan andil deflasi.
“Kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi terbesar adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,57 persen,” ucapnya.
Adapun kelompok pengeluaran yang memberikan andil deflasi yaitu kelompok, air, listrik, perumahan, bahan bakar rumah tangga sebesar 0,09 persen. Serta kelompok jasa informasi, komunikasi, dan jasa kuangan sebesar 0,01 persen.
Ia mengungkapkan, adapun komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi secara y-on-y pada Maret 2024, yakni ada beras, cabai merah, sigaret kretek mesin (skm), tomat, daging ayam ras, bawang merah, gula pasir, emas perhiasan, nasi dengan lauk, dan bawang putih.
“Sedangkan 10 komoditas yang memberikan andil deflasi y-on-y, antara lain ada ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, ikan dencis, bahan bakar rumah tangga, ikan kembung atau ikan gembung atau ikan banyar, ikan gembolo atau ikan aso-aso, ikan bandeng atau ikan bolu, pir, jeruk nipis atau limau, udang basah, baju muslim wanita, dan ikan tuna,” pungkasnya.





Komentar