65 Spesies Burung Ditemukan di Perkebunan Kopi Bener Meriah

65 Spesies Burung Ditemukan di Perkebunan Kopi Bener Meriah Foto: pixabay
Ilustrasi

"Selain itu juga ditemukan 6 spesies merupakan burung endemik dan 12 spesies burung migran," sebutnya.

Bener Meriah – Sebanyak 65 spesies burung ditemukan di kawasan perkebunan kopi di Bener Meriah. Data tersebut diketahui berdasarkan survei yang dilakukan oleh tim Yayasan Leuser Internasional (YLI) bersama dengan Pusat Kajian Satwa Liar (PKSL) Universitas Syiah Kuala (USK) dan Aceh Birder.

Diketahui, dari 65 spesies burung tersebut, 16 species di antaranya belum dilindungi di tiga kawasan perkebunan kopi di Bener Meriah. 

Keanekaragaman spesies burung tersebut terungkap dalam workshop sosialisasi hasil survey burung yang diadakan di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) USK, Senin (21/11).

"Secara keseluruhan, keanekaragaman burung di tiga lokasi survei memiliki indeks dalam kategori sedang. Keberadaan spesies burung tersebut sangat penting bagi kelestarian kopi arabika karena burung-burung tersebut berperan sebagai pemakan hama tanaman, melindungi tanaman kopi dan bersama lebah, burung juga menyerbuki tanaman kopi," kata peneliti burung dari Aceh Birder Agus Nurza dalam keterangannya, Selasa (22/11).

Nurza menjelaskan, sesuai dengan status/kriteria perdagangan internasional (CITES), terdapat 10 spesies burung tergolong ke dalam Appendix II. Sebanyak 15 spesies adalah dilindungi di dalam Undang-Undang di Indonesia. 

"Selain itu juga ditemukan 6 spesies merupakan burung endemik dan 12 spesies burung migran," sebutnya.  

Menurut Nurza, para petani dan pemangku kepentingan bidang pertanian dan perkebunan perlu mendapatkan sosialisasi tentang pentingnya eksistensi burung-burung tersebut bagi keseimbangan ekosistem dan ekonomi. 

Kemudian, selain sosialisasi, juga diperlukan dokumentasi pengetahuan lokal terkait ekologi kopi sebagai media pembelajaran dan kampanye bersama dalam berbagai produk pengetahuan seperti buku saku, poster dan media kampanye lainnya. 

"Diperlukan juga gerakan bersama multi-stakeholder seperti pemerintah, CSO dan masyarakat serta dunia usaha untuk melakukan upaya perlindungan melalui tema perkebunan kopi yang ramah burung," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Penelitian dan Pengembangan YLI Renaldi Safriansyah menyebutkan, eksistensi burung di kebun kopi terbukti bermanfaat untuk polinasi dan perlindungan dari hama (pest control).

"Hal terungkap dari temuan para peneliti yang memanipulasi kunjungan burung di 30 perkebunan kopi berbeda di Amerika Serikat dan Amerika Latin menemukan bahwa rahasia produksi dan kualitas kopi dikendalikan oleh burung dan lebah," ujarnya.

Bersama lebah, kata Renaldi, burung ikut melindungi dan menyerbuki tanaman kopi, sehingga pembuahan lebih optimal, hasil lebih berlimpah dan kualitas lebih baik.

"Ke depan, penelitian yang sama juga dilakukan di wilayah dataran tinggi Gayo dalam rangka memperkuat upaya mendorong budidaya kopi ramah burung," harapnya.

Diketahui, hasil survei burung yang didukung oleh Dean's Bean Organic Coffee tersebut mendapati 9 spesies terancam punah secara global berdasarkan IUCN Red List, 4 spesies dengan status Vulnarable (rentan) dan 5 spesies Near Threatened (hampir terancam).

Workshop tersebut turut dihadiri Dekan FKH USK Teuku Reza Ferasyi, dirinya mengapresiasi hasil survei tersebut dan mengharapkan adanya tindak lanjut dalam bentuk kajian, kebijakan, publikasi, sosialisasi, dan praktek praktek pertanian yang ramah burung.

"Para peserta mendorong adanya perlindungan terhadap spesies burung-burung di perkebunan kopi, diperlukan regulasi dari pusat, pemerintah daerah hingga ke tingkat desa," ungkapnya.

 

Editor:

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...