UIN Ar-Raniry dan BMA Gelar Pertemuan, Bahas Upaya Agar Mahasiswa Tidak Putus Kuliah
Banda Aceh – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Mujiburrahman, mengungkapkan 60 persen mahasiswanya secara ekonomi adalah masyarakat kurang mampu. Namun, kampus tetap berupaya agar tidak ada anak didik yang putus kuliah akibat keterbatasan biaya.
Hal tersebut disampaikan Prof Mujib saat beraudiensi dengan Baitul Mal Aceh, Senin (29/1), serta menyerahkan dana zakat sebesar Rp50 juta.
“Kita berupaya agar tidak ada mahasiswa yang putus kuliah karena keterbatasan biaya, makanya kita buat audiensi ini untuk memberi penjelasan kepada Baitul Mal terkait kondisi zakat kami yang selama ini juga dibutuhkan oleh mahasiswa,” kata Prof Mujib dalam keterangannya, Selasa (30/1).
Prof Mujib menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak Badan BMA yang telah hadir dalam kegiatan audiensi dan silaturrahmi yang berlangsung di Ruang Sidang Rektor Lt. II kampus setempat, guna berdiskusi untuk pengembangan kedua lembaga tersebut di masa mendatang.
“Mudah-mudahan silaturrahmi ini mendapat keberkahan dari Allah, dan bermanfaat bagi pengembangan kedua lembaga serta dapat membantu mahasiswa kita dalam menyelesaikan pendidikan,” ujarnya.
Prof Mujib turut menekankan komitmen kampus UIN Ar-Raniry membantu memperkuat kelembagaan BMA, supaya lebih baik dalam membangun ekosistem pengelolaan zakat di Aceh.
“UIN Ar-Raniry siap untuk berkolaborasi dan membantu memperkuat kelembagaan Baitul Mal Aceh ke depan agar lebih maksimal, kami mempunyai Sumber Daya Manusia yang memadai di bidang itu,” tuturnya.
Dalam pertemuan itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry, Prof Dr Muhammad Yasir Yusuf, juga memperkenalkan Islamic Trust Fund (ITF) UIN Ar-Raniry sebagai lembaga independen di kampus tersebut yang selama ini mengelola infaq untuk disalurkan sebagai beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu.
“Melalui ITF UIN Ar-Raniry ini, apabila Baitul Mal Aceh bisa memberikan solusi dengan fleksibilitas yang tinggi, maka ini akan sangat membantu anak-anak kita yang kurang mampu yang sedang belajar di kampus ini,” ungkapnya.
Sementara itu Ketua Badan BMA, Mohammad Haikal, mengatakan pertemuan antar kedua lembaga itu sangat penting dilaksanakan untuk dapat memahami keadaan sosial di lapangan.
“Pertemuan ini sangat penting dilaksanakan untuk melihat berbagai kondisi refleksi sosial kita, tentang permasalahan yang terjadi di lapangan terkait islamic social finance, sehingga kita bisa mendengar langsung kondisi di UIN Ar-Raniry hari ini,” katanya.
Editor: Zuhri Noviandi