Pengguna Jalan Keluhkan Bau Sampah di Desa Lampuja Aceh Besar

Sampah yang menumpuk di pinggir jalan Desa Lampuja, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. (Foto: Chairil/HabaAceh.id)

Jantho – Penggguna jalan yang melintas di kawasan Desa Lampuja, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, mengeluhkan bau tak sedap dari asap hasil pembakaran sampah yang menumpuk di pinggir jalan. 

Pantauan HabaAceh.id, tumpukan sampah rumah tangga itu berada di pinggir jalan penghubung antar Kecamatan Kuta Baro dan Darussalam, tepatnya di depan gardu listrik Desa Lampuja. 

Seorang pengguna jalan, Khadafi (21), mengatakan dulunya di kawasan setempat terdapat tong sampah. Namun, saat ini sudah tidak ada lagi. 

“Sekarang sudah dibakar dan membuat baju menjadi bau,” ujarnya.

Menurut Khadafi, perlu adanya peraturan dan sanksi sehingga timbul kesadaran dari semua pihak untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan. Penempatan lokasi pembuangan sampah perlu diperhatikan, terutama fasilitas tong sampah.

“Bagusnya ada reusam (peraturan desa) yang mengatur, jadi sama-sama dijaga,” tuturnya. 

Sementara itu seorang pedagang di Desa Lampuja, Darri (20), mengaku sudah berdagang sejak 2018 di kawasan pinggir jalan penghubung tersebut. Selama itu pula,  dia cukup terganggu dengan aroma busuk yang ada di sana. Padahal, sudah ada plang larangan membuang sampah.

“Kami sudah mengingatkan agar warga tidak lagi membuang sampah di sana, terkadang ketika sudah lelah, kami terpaksa mengejar mereka,” keluhnya.

Darri mengatakan, sampah sering diangkut oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Besar. Namun, juga ada yang langsung dibakar di lokasi. Sebab, menurutnya, memang tidak ada tong sampah di sana sehingga harus dibakar setiap harinya. 

“Sepertinya tidak ada tong sampah sebelumnya, kadang dibakar langsung di lokasi. Sehingga asap itulah yang menimbulkan bau dan tidak baik untuk dihirup,” pungkasnya.

Kepala Desa Lampuja, Mukhtaruddin, mengatakan sudah ada imbauan larangan membuang sampah sembarangan, bahkan pihaknya telah memasang kamera cctv. 

Selain itu, perangkat desa juga telah menugaskan pemuda untuk berjaga-jaga di lokasi tersebut. Namun, gesekan antar warga dengan pembuang sampah kerap terjadi.

“Kalau teguran secara verbal sering terjadi gesekan antara petugas dan pembuang sampah,” ujarnya.

Mukhtaruddin mengaku, proses pembakaran sampah itu dilakukan pada saat tertentu saja, hal ini terjadi saat mobil pengangkut sudah tidak mampu memuat sampah.

Saat ini, kata Mukhtaruddin, pihaknya sedang menunggu pembangunan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang disediakan oleh Kecamatan Darussalam di Pantee Kulu.

“Beberapan bulan lalu, Pak Camat janjikan TPS di Pantee Kulu, lagi proses pembangunan. Mungkin itu solusi masalah sampah di sini,” ucapnya.

Chairil/fjl

Editor: Zuhri Noviandi