MaTA: Penyambutan Kepulangan Irwandi Yusuf Bentuk Kemunduran Berpolitik
"Jadi apa yang terjadi selama ini termasuk yang terjadi kemarin, ini sebenarnya bagaikan dari kemunduran partai politik dan demokrasi yang lebih maju, terutama partai politik," kata Alfian.
Banda Aceh - Kepulangan eks Gubernur Aceh Irwandi Yusuf usai bebas bersyarat dari Lapas Sukamiskin, Jawa Barat disambut sejumlah pendukungnya. Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Alfian menilai penyambutan itu menunjukkan bentuk kemunduran berpolitik dan demokrasi.
"Jadi apa yang terjadi selama ini termasuk yang terjadi kemarin, ini sebenarnya bagaikan dari kemunduran partai politik dan demokrasi yang lebih maju, terutama partai politik," kata Alfian, Selasa (1/11).
Alfian menyampaikan, penyambutan Irwandi oleh simpatisannya itu menunjukkan sikap partai politik tidak memiliki konsistensi dalam memberantas korupsi. Sehingga, hal itu berpengaruh terhadap dunia politik Aceh di mata masyarakat.
Lebih lanjut, kata Alfian, kepulangan Irwandi yang diwarnai dengan prosesi peusijuek (tepung tawari) juga memberikan kesan bahwa tindakan korupsi adalah hal yang biasa, dan seolah-olah budaya korupsi dianggap sebagai hal yang baru dan lumrah.
"Yang lebih parahnya lagi, seorang koruptor selalu mengampanyekan bahwa ini adalah politik, difitnah atau ini hanya musibah. Ini kan sudah menjadi perilaku ketika mereka menjadi koruptor ketika sudah ditangkap atau sudah di tersangkakan," ujar Alfian.
Selain itu, Alfian menyatakan, ekonomi yang buruk dan angka stunting yang masih tinggi menunjukkan bahwa aktivitas korupsi di Aceh masih merajalela. Karena itu, tidak ada alasan seorang mantan koruptor harus dibangga-banggakan di Tanah Rencong.
"Apa yang dilakukan ini contoh tidak baik. Bagi kami soal koruptor tetap koruptor, jadi tidak ada alasan logis bagi koruptor itu patut kita banggakan," katanya.


Komentar