Faisal Ali Hasyim Isi Ceramah Ramadan di UIN Ar-Raniry, Ini Pesannya
Banda Aceh - Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Agama (Kemenag) RI Faisal Ali Hasyim melaksanakan salat tarawih dan memberikan ceramah di Masjid Fathun Qarib kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Kamis (21/3) malam.
Kehadiran Irjen Faisal ke UIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam rangka silaturrahmi dan penguatan pakta integritas kinerja rektor dan pimpinan di lingkungan UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang dirangkai dengan buka puasa bersama.
Dalam ceramahnya Irjen Faisal yang merupakan putra Aceh kelahiran Pidie, mengajak umat Muslim menjadikan momentum bulan Ramadan untuk bertakwa sekaligus memohon ampunan kepada Allah SWT.
Mengawali ceramahnya, dia menjelaskan bahwa dalam QS Al Baqarah 183 yang menjadi landasan perintah puasa tujuan utamanya adalah "laallakum tattaqun".
Agar semua menjadi orang yang bertakwa. Pentingnya taqwa yaitu menjaga diri dari larangan Allah dan melaksanakan semua perintahnya.
"Inilah yang perlu digarisbawahi yaitu takwa, sebuah kata yang menurut banyak ulama disebut sebagai kata yang sangat ringan untuk diucapkan tetapi sangat berat untuk dilaksanakan," katanya.
Faisal menjelaskan, takwa secara bahasa bermakna kata khauf ( خَوْف ) dan khasyyah ( خَشْيَة) yang berarti ‘takut’. Sedangkan secara istilah takwa adalah “menjaga dari semua yang dilarang Allah dan melaksanakan semua perintah Allah”.
Sehingga dapat dikatakan bahwa takwa adalah manifestasi dari rasa takut pada Allah, sehingga mendekatkan diri kepadanya dengan cara menjalankan semua perintahnya dan menjauhkan diri dari larangannya.
"Inilah yang membedakan takut kita kepada makhluk dan takut kita kepada khaliq. Jika kita takut pada makhluk seperti takutnya kita kepada harimau, kepada anjing, atau takut kita akan hantu maka kita menjauh, tetapi jika kita punya rasa khauf atau takut pada khaliq pada Allah maka kita wajib semakin mendekat dan mentaatinya," ujarnya.
Menurut alumnus SMAN 3 Banda Aceh dan Universitas Syiah Kuala (USK) ini, sejatinya madrasah Ramadan memberikan pendidikan untuk menjadi muttaqin dengan kurikulum utamanya, puasa.
Puasa mengajarkan untuk menjadi manusia yang jujur 100 persen. Meskipun mudah untuk berbuat curang saat lapar dan haus di siang hari, umat Muslim sepakat untuk tidak melakukannya karena takut pada Allah.
Dia mengajak para jemaah yang hadir agar setelah Ramadan berakhir, penting untuk menerapkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari.
"Takwa yang tertanam dalam diri akan membentuk pribadi yang berintegritas, jujur, dan amanah. Jika nilai ini diadopsi dalam konteks ASN atau aparatur negara, banyak masalah seperti kurangnya disiplin, korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan lainnya dapat terselesaikan," terangnya.
Di akhir ceramah, Faisal berpesan bahwa dengan tekad yang kuat, manusia harus meningkatkan kualitas diri sesuai dengan ajaran madrasah Ramadan.
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung."
"Mari kita semua berusaha agar hari ini lebih baik dari kemarin, sehingga kita termasuk orang-orang yang beruntung," pungkasnya.
Editor: Zuhri Noviandi